KISI-KISI SOAL SENI BUDAYA UJIAN SEKOLAH SMK NEGERI 1 BONE-BONE 2014

” untuk seluruh siswa kelas 3″ membuat makalah kelompok, materinya dari setiap point materi kisi-kisi soal seni budaya yang tertulis di bawah ini..!

materi kisi-kisi soal seni budaya ujian sekolah 2014

1. Pengertian budaya dan seni menurut para ahli
2. Sifat dasar seni
3. Fungsi seni
4. Lingkaran warna, harmoni warna kontras, monokramatik dan analogis
5. Unsur-unsur seni rupa
6. Macam-macam teknik dan corak seni rupa terapan
7. Ciri-ciri bentuk drama
8. Unsur-unsur pendukung dalam penampilan drama
9. Apresiasi seni drama
10. Macam-macam periode seni rupa modern di Indonesia
11. Berkarya seni musik
12. Karateristik music yang berhubungan dengan pola-pola otak
13. Klasifikasi karya music yang berhubungan dengan pola-pola otak
14. Cirri-ciri melodi yang bagus dan baik
15. Jenis-jenis tarian mancanegara
16. Salahsatu contoh tarian mancanegara
17. Komposisi dan gerak tari
18. Apresiasi seni tari
19. Jenis-jenis tarian mancanegara
20. Cirri-ciri dan bentuk tarian mancanegara
21. Apresiasi seni teater
22. Tugas dan peranan dalam membuat film
23. Apresiasi seni rupa
24. Aliran seni rupa
25. Bentuk dan macam-macam seni lukis
26. Teknik menggambar dalam seni rupa
27. Apresiasi seni musik
28. Jenis instrumen musik
29. Alat instrument musik

Konsultasikan makalah setiap pertemuan, diperbaiki jika ada yang di koreksi.

setelah finish, makalah dijilid dan filenya di emailkan ke_ elivas02@yahoo.co.id

“selamat bekerja…by elivas guru seni budaya”

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MATERI SENI BUDAYA JILID 2

SENI RUPA

5.1. Pengantar Seni Rupa

Kemampuan bidang estetika dan budaya seakan dikesampingkan

pada kondisi sistem pendidikan nasional saat ini, karena lebih

mengutamakan pengembangan kemampuan dibidang ilmu pengetahuan,

teknologi, dan matematika. Hal ini kurang mendukung upaya pembentukan

kwalitas kepribadian manusia Indonesia yang diharapkan. Peran pendidikan

seni merupakan salah satu kemampuan dibidang estetika yang dapat

mewujudkan manusia seutuhnya.

Seni merupakan salah satu pemanfaatan budi dan akal untuk

menghasilkan karya yang dapat menyentuh jiwa spiritual manusia. Karya seni

merupakan suatu wujud ekspresi yang bernilai dan dapat dirasakan secara

visual maupun audio. Seni terdiri dari musik, tari, rupa, dan drama/sastra.

Seni rupa merupakan ekspresi yang diungkapkan secara visual dan terwujud

nyata (rupa).

Seni rupa modern terbagi atas dua kelompok besar yaitu seni murni

dan seni terapan. Seni terapan terdiri dari desain dan kriya. Desain dan Kriya

bertujuan untuk mengisi kebutuhan masyarakat akan bidang estetis terapan.

Perkembangan keilmuan seni rupa dalam beberapa tahun terakhir ini

mengalami perluasan ke arah wahana besar yang kita kenal sebagai budaya

rupa (visual culture). Lingkup sesungguhnya tidak hanya cabang-cabang seni

rupa yang kita kenal saja, seperti lukis, patung, keramik, grafis dan kriya, tapi

juga meliputi kegiatan luas dunia desain dan kriya (kerajinan), multimedia,

fotografi. Bahkan muncul pula teori dan ilmu sejarah seni rupa, semantika

produk, semiotika visual, kritik seni, metodelogi desain, manajemen desain,

sosiologi desain, dan seterusnya.

5.1.1. Seni Murni

Seni rupa murni lebih mengkhususkan diri pada proses penciptaan

karya seninya dilandasi oleh tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan

kepuasan batin senimannya.Seni murni diciptakan berdasarkan kreativitas

dan ekspresi yang sangat pribadi (lukis, patung, grafis, keramik ). Namun

dalam hal tertentu, karya seni rupa murni itu dapat pula diperjualbelikan atau

memiliki fungsi sebagai benda pajangan dalam sebuah ruang.

a. Seni lukis salah satu jenis seni murni berwujud dua dimensi pada

umumnya dibuat di atas kain kanvas berpigura dengan bahan cat minyak,

cat akrilik, atau bahan lainnya.

b. Seni patung salah satu jenis seni murni berwujud tiga dimensi. Patung

dapat dibuat dari bahan batu alam, atau bahan-bahan industri seperti

logam,serat gelas, dan lain-lain.

c. Seni Grafis merupakan seni murni dua dimensi dikerjakan dengan teknik

cetak baik yang bersifat konvensional maupun melalui penggunaan

teknologi canggih. Teknik cetak konvensional antara lain : 1) Cetak Tinggi

( Relief Print ) : wood cut print, wood engraving print, lino cut print, kolase

print ; 2) Cetak Dalam ( Intaglio ) : dry point, etsa, mizotint,sugartint ; (3)

sablon ( silk screen ). Teknik Cetak dengan teknologi modern, misalnya

offset dan digital print.

d. Seni keramik termasuk seni murni tiga dimensi sebagai karya bebas yang

tidak terikat pada bentuk fungsional.

 

5.1.2. Desain

Di zaman modern segala benda dan bangunan yang dibutuhkan

manusia, umumnya merupakan karya desain, baik dengan pendekatan

estetis, maupun pendekatan fungsional. Istilah desain mengalami perluasan

makna, yaitu sebagai kegiatan manusia yang berupaya untuk memecahkan

masalah kebutuhan fisik.

Berbeda dengan karya seni murni, desain merupakan suatu aktivitas

yang bertitik tolak dari unsur-unsur obyektif dalam mengekspresikan gagasan

visualnya. Unsur-unsur obyektif suatu karya desain adalah adanya unsure

rekayasa (teknologi), estetika (gaya visual), prinsip sains (fisika), pasar

(kebutuhan masyarakat), produksi (industri), bahan (sumber daya alam),

budaya (Sikap, mentalitas, aturan, gaya hidup), dan lingkungan (social).

Unsur objektif yang menjadi pilar sebuah karya desain dapat berubah

tergantung jenis desain dan pendekatan.

Cabang-cabang desain yang kita kenal antara lain ada di bawah ini :

a. Desain Produk (Industrial Design)

Desain produk adalah cabang seni rupa yang berupaya untuk

memecahkan persoalan kebutuhan masyarakat akan peralatan dan benda

sehari-hari untuk menunjang kegiatannya, seperti : mebel, alat rumah tangga,

alat transportasi, alat tulis, alat makan, alat kedokteran, perhiasan, pakaian,

sepatu, pengatur waktu, alat kebersihan, cindera mata, kerajinan, mainan

anak, bahkan perkakas pertukangan.

b. Desain Grafis/ Desain Komunikasi Visual

Desain grafis adalah bagian dari seni rupa yang berupaya untuk

memecahkankebutuhan masyarakat akan komunikasi rupa yang dicetak,

seperti poster, brosur, undangan, majalah, surat kabar, logo perusahan,

kemasan, buku, dan bhkan juga cerita bergambar (komik), ilustrasi, dan

krikatur,. Desain grafis kemudian mengalami perkembangan sejalan dengan

kebutuhan masyarakat. Kini cabang seni rupa ini dikenal dengan nama

desain komunikasi visual dengan penambahan cakupannya meliputi

multimedia dan fotografi.

d. Desain interior

Desain Interior adalah suatu cabang seni rupa yang berupaya untuk

memecahkan kebutuhan akan ruang yang nyaman dan indah dalam sebuah

hunian, seperti ruang hotel, rumah tinggal, bank, museum, restoran, kantor,

pusat hiburan, rumah sakit, sekolah, bahkan ruang dapur dan kafe. Banyak

yang berpandangan bahwa desain interior merupakan bagian dari arsitektur

dan menjadi kesatuan yang utuh dengan desain tata ruang secara

keseluruhan. Namun, pandangan ini berubah ketika profesi desain interior

berkembang menjadi ilmu untuk merancang ruang dalam dengan

pendekatan-pendekatan keprofesionalan.

Dunia desain berkembang sejalan dengan kemajuan kebudayaan

manusia. Masyarakat juga mengenal desain multimedia. Cabang desain ini

berkembang sejalan dengan tumbuhnya teknologi komputer dan dunia

pertelevisian.

5.1.3. Kriya

Perkembangan dalam dunia seni rupa, adalah munculnya kriya

sebagai bagian tersendiri yang terpisah dari seni rupa murni. Jika

sebelumnya kita mengenal istilah seni kriya sebagai bagian dari seni murn,

kita mengenal istilah kriya atau ada pula yang menyebutnya kriya seni. Kriya

merupakan pengindonesiaan dari istilah Inggris Craft, yaitu kemahiran

membuat produk yang bernilai artistik dengan keterampilan tangan, produk

yang dihasilkan umumnya eksklusif dan dibuat tunggal, baik atas pesanan

ataupun kegiatan kreatif individual. Ciri karya kriya adalah produk yang

memiliki nilai keadiluhungan baik dalam segi estetik maupun guna.

Sedangkan karya kriya yang kemudian dibuat misal umumnya dikenal

sebagai barang kerajinan

5.2. Dasar-dasar Seni Rupa

Dalam proses berkarya, diperlukan penyusunan unsur-unsur atau

elemen suatu karya yang sesuai dengan prinsip-prinsip komposisi yang

harmonis

5.2.1. Unsur-unsur Seni Rupa

Unsur-unsur dasar karya seni rupa adalah unsur-unsur yang

digunakan untuk mewujudkan sebuah karya seni rupa. Unsur-unsur itu terdiri

dari :

a. Titik /Bintik

Titik/bintik merupakan unsur dasar seni rupa yang terkecil. Semua

wujud dihasilkan mulai dari titik. Titik dapat pula menjadi pusat perhatian, bila

berkumpul atau berwarna beda.Titik yang membesar biasa disebut bintik.

b.Garis

Garis adalah goresan atau batas limit dari suatu benda, ruang,

bidang, warna, texture, dan lainnya. Garis mempunyai dimensi memanjang

dan mempunyai arah tertentu, garis mempunyai berbagai sifat, seperti

pendek, panjang, lurus, tipis, vertikal, horizontal, melengkung, berombak,

halus, tebal, miring, patah-patah, dan masih banyak lagi sifat-sifat yang lain.

Kesan lain dari garis ialah dapat memberikan kesan gerak, ide, simbol, dan

kode-kode tertentu, dan lain sebagainya. Pemanfaatan garis dalam desain

diterapkan guna mencapai kesan tertentu, seperti untuk menciptakan kesan

kekar, kuat simpel, megah ataupun juga agung. Beberapa contoh symbol

ekspresi garis serta kesan yang ditimbulkannya, dan tentu saja dalam

penerapannya nanti disesuaikan dengan warna-warnanya

c. Bidang

Bidang dalam seni rupa merupakan salah satu unsur seni rupa yang

terbentuk dari hubungan beberapa garis. Bidang dibatasi kontur dan

merupakan 2 dimensi, menyatakan permukaan, dan memiliki ukuran Bidang

dasar dalam seni rupa antara lain, bidang segitiga, segiempat, trapesium,

lingkaran, oval, dan segi banyak lainnya

d. Bentuk

Bentuk dalam pengertian bahasa, dapat berarti bangun (shape) atau

bentuk plastis (form). Bangun (shape) ialah bentuk benda yang polos, seperti

yang terlihat oleh mata, sekedar untuk menyebut sifatnya yang bulat, persegi,

ornamental, tak teratur dan sebagainya. Sedang bentuk plastis ialah bentuk

benda yang terlihat dan terasa karena adanya unsur nilai (value) dari benda

tersebut, contohnya lemari. Lemari hadir di dalam suatu ruangan bukan

hanya sekedar kotak persegi empat, akan tetapi mempunyai nilai dan peran

yang lainnya.

Bentuk atau bangun terdiri dari bentuk dua dimensi (pola) dan bentuk

tiga dimensi. Bentuk dua dimensi dibuat dalam bidang datar dengan batas

garis yang disebut kontur. Bentuk-bentuk itu antara lain segitiga, segi empat,

trapezium dan lingkaran. Sedang bentuk tiga dimensi dibatasi oleh ruang

yang mengelilinginya dan bentuk-bentuk itu antara lain limas, prisma, kerucut,

dan silinder.

Sifat atau karakteristik dari tiap bentuk dapat memberikan kesankesan

tersendiri seperti :

1) Bentuk teratur kubus dan persegi, baik dalam dua atau tiga dimensi

memberi kesan statis, stabil, dan formal. Bila menjulang tinggi sifatnya

agung dan stabil.

2) Bentuk lengkung bulat atau bola memberi kesan dinamis, labil dan

bergerak.

3) Bentuk segitiga runcing memberi kesan aktif, energik, tajam, dan

mengarah.

Dalam seni rupa, bentuk pada dasarnya dibagi menjadi tiga, yaitu :

1) Bentuk figuratif

Bentuk figuratif adalah bentuk-bentuk yang berasal dari alam (nature).

Bentuk-bentuk itu seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia ataupun

alam lainnya.

2) Bentuk yang diabstraktif

Bentuk diabstraktif adalah bentuk figuratif yang telah mengalami

perubahan atau penggayaan bentuk yang kemudian cenderung kita sebut

dengan istilah stilasi atau deformasi. Di sini bentuk figuratif diubah hingga

tinggal sarinya (esensinya) saja dan menjadi bentuk baru yang kadangkadang

hampir kehilangan ciri-ciri alaminya sama sekali. Contoh bentuk ini,

misalnya abstraksi manusia menjadi topeng atau wayang, abstraksi binatang

seperti burung garuda dan abstraksi tumbuhan seperti pada gambar-gambar

hiasan.

Penggunaan bentuk-bentuk ini umumnya diterapkan pada karya-karya

seni dekoratif seperti pada batik, hiasan keramik, karya ukiran, dan lain-lain.

Sumber : Seni Rupa dan Desain

Gambar 5.13. Pengayaan Bentuk (Diabstraktif)

3) Bentuk abstrak

Bentuk abstrak sering disebut dengan bentuk non figuratif, artinya

bentuk-bentuk yang lahir bukan dari alam melainkan penyimpangan dari

bentuk-bentuk alam. Ada tiga macam bentuk abstrak, yaitu bentuk abstrak

murni, abstrak simbolis, dan abstrak filosofis.

Bentuk abstrak murni ialah bentuk-bentuk yang sering disebut dengan

bentuk-bentuk geometris atau bentuk alam benda, misalnya segitiga, prisma,

kursi, lemari, sepatu, buku, rumah, dan lain-lain. Bentuk simbolis, misalnya

huruf, tanda baca, rambu-rambu, lambang, dan lain-lain. Sedang abstrak

filosofis ialah bentuk-bentuk yang mempunyai nilai-nilai tertentu, misalnya

agama, kepercayaan, dan lainnya.

e. Ruang

Ruang dalam arti yang luas adalah seluruh keluasan, termasuk di

dalamnya hawa udara. Dalam pengertian yang sempit ruang dibedakan

menjadi dua, yaitu ruang negatif dan ruang positif. Ruang negatif adalah

ruang yang mengelilingi wujud bentuk, sedang ruang positif adalah ruang

yang diisi atau ditempati wujud bentuk.

f. Warna

Warna merupakan unsur penting dan paling dominant dalam sebuah

penciptaan karya desain. Melalui warna orang dapat menggambarkan suatu

benda mencapai kesesuaian dengan kenyataan yang sebenarnya. Warna

dapat dikelompokkan berdasarkan jenis warna, sifat warna, dan makna

warna.

1) Jenis warna

Dalam sistem Prang (The Prang System), warna dalam hal ini

adalah pigmen yang dapat dikelompokkan sebagai jenis-jenis

warna sebagai berikut :

  • • Warna primer, yaitu tiga warna

pokok yakni merah, biru, dan kuning.

  • • Warna sekunder / biner, yaitu

perpaduan antara 2 warna primer

dan menghasilkan warna hijau,

jingga dan ungu.

  • • Warna intermediate, yaitu

percampuran antara warna primer

dengan warna sekunder,

menghasilkan warna kuning hijau,

hijau-biru, biru-ungu, merah-ungu,

merah-jingga, dan kuning-jingga.

  • • Warna tertier, yaitu percampuran

antara warna sekunder dan warna

intermediate dan menghasilkan

sebanyak 12 warna.

  • • Warna quarterner, yaitu

pencampuran warna intermediate

dengan warna tertier dan

menghasilkan sebanyak 24 warna.

2) Sifat warna

Sifat warna dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : hue, value, dan

intensity.

a) Hue

Hue adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari

suatu warna, seperti merah, biru, kuning, hijau, coklat, ungu,

jingga, dan warna lainnya. Perbedaan antara merah dengan biru,

atau merah dengan kuning adalah perbedaan dalam hue.

b) Value

Value adalah istilah untuk menyatakan gelap terangnya warna

atau harga dari hue. Untuk mengubah value, misalnya dari merah

normal ke merah muda dapat dicapai dengan cara menambah

putih atau mempercair warna tersebut hingga memberi kesan

terang. Dan untuk memberi kesan gelap misalnya merah tua dapat

dicapai dengan menambah hitam. Value yang berada

dipertengahan disebut middle value dan yang berada di atas

middle value disebut high value, sedang yang berada dibawahnya

disebut low value. Value yang lebih terang dari warna normal

disebut tint dan yang lebih gelap disebut shade. Close value

adalah value yang berdekatan atau bersamaan dan kelihatan

lembut dan terang.

c) Intensity

Intensity atau chroma adalah istilah untuk menyatakan cerah atau

suramnya warna, kualitas atau kekuatan warna. Warna-warna yang

intensitasnya penuh nampak sangat mencolok dan menimbulkan efek tegas,

sedang warna-warna yang intensitasnya rendah nampak lebih lembut.

Berdasarkan paduan

warna (colour scheme), warna

dapat dibagi dalam tiga tipe yakni

:

  • • Warna monokromatrik adalah

tingkatan warna dari gelap ke

terang dalam urutan satu

warna, misalnya urutan dari

merah tua sampai ke merah

yang paling muda.

  • • Warna Complementer, yaitu

dua warna yang berlawanan

dalam kedudukan berhadaphadapan,

memiliki kekuatan

berimbang, misalnya kuning

kontras ungu, biru kontras

jingga, dan merah kontras

hijau.

  • • Warna analogus adalah

tingkatan warna dari gelap ke

terang dalam urutan beberapa

warna, misalnya urutan dari

biru, biru kehijauan, hijau,

hijau kekuningan, dan kuning.

3) Makna Warna

Sebagaimana unsur desain yang lain, warna juga mempunyai

makna yang berbeda, antara lain sebagai berikut :

  • • Merah mempunyai makna api, panas, marah, bahaya, aksi,

gagah, berani, hidup, riang dan dinamis.

  • • Putih mempunyai makna suci, mati, bersih, tak berdosa, dan

jujur.

  • • Kuning mempunyai makna matahari, cerah, sukacita, terang,

iri, dan benci.

  • • Kuning emas mempunyai makna masyhur, agung, luhur, dan

jaya.

  • • Coklat mempunyai makna stabil dan kukuh.
  • • Jingga mempunyai makna masak, bahagia, senja, riang,

mashur, dan agung.

  • • Biru mempunyai makna tenang, kenyataan, damai, kebenaran,

kesedihan dan setia.

  • • Hijau mempunyai makna dingin, sejuk, tenang, segar, mentah,

pertumbuhan, dan harapan.

  • • Merah muda mempunyai makna romantis, dan ringan.
  • • Ungu mempunyai makna kekayaan, berkabung, bangsawan,

mewah, berduka cita, dan mengandung rahasia.

  • • Hitam mempunyai makna tragedi, kematian, duka, kegelapan,

gaib, tegas, dan dalam.

Pemaknaan warna dipengaruhi oleh aspek budaya setempat. Pemaknaan

warna yang terkait dengan warna sebagai simbol, di masing-masing daerah

atau wilayah, akan berbeda, sesuai dengan pemaknaannya dalam budaya

setempat. Contoh : bendera tanda adanya kematian, di Indonesia berbeda

sesuai daerah setempat. Di Yogjakarta, bendera merah, di Jakarta – kuning,

di Sulawesi – putih, di Sumatera – merah, dan sebagainya.Di negeri China,

warna merah berarti Cinta, sedangkan di Indonesia berarti marah atau berani.

 

g.Tekstur

Tekstur adalah nilai raba pada suatu permukaan, baik itu nyata

maupun semu. Suatu permukaan mungkin kasar, mungkin juga halus,

mungkin juga lunak mungkin juga kasap atau licin dan lain-lain.

Ada dua macam tekstur yakni tekstur nyata dan tekstur semu, sebagai berikut

:

1) Tekstur nyata

Tekstur nyata adalah tekstur fisik suatu benda secara nyata yang

dikarenakan adanya perbedaan permukaan suatu benda. Misalnya tekstur

wool berbeda dengan kapas, kain sutera berbeda dengan plastik, dan lain

sebagainya. Tekstur ini dapat dikelompokkan dalam tekstur alam, tekstur

buatan dan tekstur reproduksi. Tekstur alam adalah tekstur yang berasal

langsung dari alam, misalnya daun, kulit kayu, permukaan batu, dan lainnya.

Tekstur buatan adalah tekstur yang tercipta dari susunan benda-benda alam,

seperti tikar (dari daun yang disusun), goni (dari pasir dan kertas).

Sedangkan tekstur reproduksi adalah tekstur yang dibuat melalui reproduksi

benda yang sebenarnya, misalnya wallpaper.

2) Tekstur semu

Tekstur semu adalah tekstur yang terlihat saja berbeda tetapi bila

diraba ternyata sama saja. Tekstur ini hadir karena adanya unsur gelap

terang atau karena unsur perspektif.

Selain nilai raba pada suatu permukaan, tekstur juga dapat

menimbulkan kesan berat dan ringan. Sebuah kubus dari besai yang berat

bila dibagian luarnya dilapisi dengan karton maka akan memberi kesan

ringan dan kosong.

5.2.2. Prinsip Penyusunan Karya Seni Rupa

Prinsip adalah asas, prinsip dalam penyusunan karya seni rupa

adalah asas dalam menyusun sebuah karya seni rupa, sehingga karya seni

yang diciptakan mencapai sasaran yang diinginkan.

Ada enam prinsip penyusunan yang perlu diperhatikan oleh para

pencipta karya seni, yaitu :

a. Proporsi

Proporsi artinya perbandingan ukuran keserasian antara satu bagian

dengan bagian yang lainnya dalam suatu benda atau susunan karya seni

(komposisi). Untuk mendapatkan proporsi yang baik, kita harus selalu

membandingkan ukuran keserasian dari benda atau susunan karya seni

tersebut. Misalnya, membandingkan ukuran tubuh dengan kepala, ukuran

kursi dengan meja, ukuran objek dengan ukuran latar, dan kesesuaian

ukuran objek dengan objek lainnya. Karya seni yang tidak proporsional

tampak tidak menarik dan kelihatan janggal. Untuk itu dalam penciptaannya

harus dibuat sesuai dengan proporsi yang sebenarnya. Gambar berikut

memperhatikan contoh karya seni yang proporsional dan yang tidak

proporsional.

b. Keseimbangan (balans)

Keseimbangan (balans) adalah kesan yang didapat karena adanya

daya tarik yang sama antara satu bagian dengan bagian lainnya pada

susunan karya seni.

Balans didapat dari dua kesan, yakni karena adanya ukuran / bentuk

dan karena adanya warna. Karena adanya ukuran / bentuk disebut balans

ukuran / bentuk dan karena adanya warna disebut balans warna.

Bila dilihat dari bentuk susunannya, balans dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1) Balans Simetris

Balans simetris atau balans formal adalah balans yang susunan

unsur-unsurnya pada tiap-tiap sisi dari pusatnya adalah benar-benar sama.

2) Balans asimetris

Balans asimetris atau balans informal adalah balans yang susunan

unsur-unsurnya pada tiap-tiap sisi ditempatkan berbeda, namun susunan

tersebut bisa memberikan kesan seimbang.

3) Balans radial

Balans radial atau memusat / melingkar adalah balans yang susunan

unsur-unsurnya melingkari satu pusat yang berbentuk roda.

c. Irama (Ritme)

Irama (ritme) adalah pengulangan yang terus menerus dan teratur

dari suatu unsur atau beberapa unsur. Untuk mendapatkan gerak irama

(ritmis)dapat diperoleh dengan cara :

g. Melalui pengulangan bentuk

(repetisi)

h. Melalui penyelangan dan

pergantian (variasi)

i. Melalui progresi atau gradasi,

yakni suatu urutan atau tingkatan

seperti dari besar makin lama

makin makin mengecil atau dari

gelap sekali, kemudian menurun

menjadi gelap dan akhirnya

menjadi terang.

j. Melalui gerak garis

berkesinambungan (kontinu)

d. Kontras

Kontras adalah kesan yang

didapat karena adanya dua hal yang

berlawanan, misalnya adanya

bentuk, ukuran, warna, atau tekstur

yang berbeda. Kontras yang

ditimbulkan karena adanya bentuk

yang berbeda disebut kontras

bentuk. Jika ukurannya yang

berbeda maka disebut kontras

ukuran. Bila warnanya yang berbeda

maka disebut kontras warna. Dan

apabila tekstur yang berbeda, maka

disebut Kontras tekstur.

e. Klimaks

Klimaks disebut juga dominan, adalah fokus dari susunan karya seni

yang mendatangkan perhatian. Oleh sebab itu, istilah klimaks sering disebut

dengan istilah centre of interest (pusat perhatian). Untuk menciptakan pusat

perhatian pada karya desain, tempatkan salah satu unsur secara tersendiri

atau berbeda dari unsur lainnya.

Istilah lain yang sering digunakan untuk kata klimaks adalah

emphasize (penekanan), centre point dan fokus.

f. Kesatuan (Unity)

Kesatuan (unity) adalah prinsip utama dalam hal penciptaan bentuk.

Dengan kesatuan, elemen seni rupa dapat disusun sedemikian rupa hingga

menjadi satu kesatuan bentuk yang terorganisir dari setiap unsur desain

hingga tercapailah suatu karya seni atau sebuah karya desain yang menarik

dan harmonis.

g. Komposisi

Komposisi merupakan suatu susunan unsur-unsur seni rupa

berdasarkan prinsip seni rupa. Susunan tersebut dikatakan harmonis, apabila

tersusun sesuai prinsip-prinsip seni rupa. Susunan yang harmonis tersebut

menghasilkan komposisi seni rupa yang baik.

5.3. Apresiasi Karya Seni Rupa

5.3.1 Pengertian dan Fungsi Apresiasi

Apresiasi berasal dari bahasa latin appretiatus yang lebih kurang

mempunyai arti mengerti serta menyadari sepenuhnya hingga mampu

menilai semestinya. Dalam hubungannya dengan seni kata apresiasi

mempunyai arti mengerti dan menyadari tentang hasil karya seni serta

menjadi peka terhadap nilai estetisnya, sehingga mampu menikmati dan

menilai karya seni tersebut. Dalam pengertian yang lebih luas, apresiasi

dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang menikmati, mengamati,

menghayati serta menilai sekaligus memberi masukan berupa kritikan yang

objektif tanpa kehilangan rasa simpati terhadap sebuah karya seni.

Apresiasi mempunyai tiga tingkatan, yaitu apresiasi empatik, apresiasi

estetis, dan apresiasi kritis.

  • • Apresiasi empatik adalah apresiasi yang hanya menilai baik dan

kurang baik hanya berdasarkan pengamatan belaka. Apresiasi atau

penilaian ini bias any dilakukan oleh orang awam yang tidak punya

pengetahuan dan pengalaman dalam bidang seni.

  • • Apresiasi estetis adalah apresiasi untuk menilai keindahan suatu

karya seni. Apresiasi pada tingkat ini dilakukan seseorang setelah

mengamati dan menghayati karya seni secara mendalam.

  • • Apresiasi kritis adalah apresiasi yang dilakukan secara ilmiah dan

sepenuhnya bersifat keilmuan dengan menampilkan data secara

tepat, dengan analisis, interpretasi, dan peneilaian yang bertanggung

jawab.

Apresiasi ini biasanya dilakukan oleh para kritikus yang memang

secara khusus mendalami bidang tersebut. Dalam suatu apresiasi akan

terjalin komunikasi antara si pembuat karya seni (seniman) dengan penikmat

karya seni (apresiator). Dengan adanya komunikasi timbal-balik ini, seniman

diharap mampu mengembangkan kemampuannya untuk dapat membuat

karya seni yang lebih bermutu.

 

5.3.2. Aliran-aliran dalam Seni Rupa

Berbagai aliran dalam seni rupa berkembang terus dari jaman ke jaman,

antara lain :

a. Naturalisme

Aliran ini merupakan suatu aliran seni rupa yang mengutamakan

kesesuaian dengan keadaan mahluk hidup, alam, dan benda mati

sebenarnya. Contoh yang paling terlihat adalah pada lukisan potret diri,

pemandangan alam, atau landscape.

b. Realisme

Aliran ini menunjukkan suatu keadaan sosial yang sesungguhnya dan

biasanya memprihatinkan dan sedang bergejolak di dunia atau suatu

tempat tertentu. Contoh aliran seni rupa ini antara lain melukiskan

kemiskinan, kesedihan, atau peristiwa yang memilukan.

c. Romantisme

Aliran ini umumnya ditandai oleh tema-tema yang fantastis, penuh

khayal, atau petualangan para pahlawan purba. Juga banyak

menampilkan berbagai perilaku dan karakter manusia yang dilebihlebihkan.

Para pelukis ini antara lain Eugene delacroik (1798-1963), Jean

Baptiste Camille Corot(1796-1875) dan Rousseau (1812-1876). Gaya ini

juga berkembang di Jerman, Belanda, dan Perancis.

d. Impresionisme

Aliran ini dalam dunia seni rupa berawal dari ungkapan yang mengejek

pada karya Claude Monet (1840-1926) pada saat pameran di Paris tahun

1874. Karya ini menggambarkan bunga teratai dipagi hari yang

ditampilkan dalam bentuk yang samar dan warna kabur dan oleh

sebagian kritikus seni disebut sebagai “impresionistik “, suatu lukisan

yang menampilakan bentuk yang sederhana dan terlampau biasa.

e. Ekspresionisme

Adalah suatu aliran dalam seni rupa yang melukiskan suasana

kesedihan, kekerasan, kebahagiaan, atau keceriaan dalam ungkapan

rupa yang emosional dan ekspresif.

Salah seorang pelukis yang beraliran Ekspresionisme adalah Vincent

van Gogh (1853-1890). Lukisan lukisannya penuh dengan ekpresi

gejolak jiwa yang diakibatkan oleh penderitaan dan kegagalan dalam

hidup.salah satu lukisannya yang terkenal adalah “Malam Penuh Bintang

“(1889), yang mengekpresikan gairah yuang tinggi sekaligus perasaan

kesepian.

f. Kubisme

Kubisme adalah suatu aliran dalam seni rupa yang bertitik tolak dari

penyederhanaan bentuk-bentuk alam secara geometris (berkotak-kotak).

Pada tahun 1909 berkembang aliran kubisme Analistis yang

mengembangkan konsep dimensi empat dalam seni lukis. Dan

dimengerti sebagai konsep dimensi ruang dan waktu dalam lukisan.

Pada setiap sudut lukisan terlihat objek yang dipecah-pecah dengan

posisi waktu yang berbeda. Sedangkan Kubisme Sintetis, pelukisannya

disusun dengan bidang yang berlainan yang saling tumpang dan tembus.

g. Konstruksifisme

Aliran seni ini awalnya berkembang di Rusia penggagasnya antara lain

Vladimir Tattin, Antoine Pevsner, dan Naum Gabo. Gaya ini

mengetengahkan berbagai karya seni berbentuk tiga dimensional namun

wujudnya abstrak. Bahan-bahan yang dipergunakan adalah bahan

modern seperti besi beton, kawat, bahkan plastik.

h. Abstrakisme

Seni ini menampilkan unsur-unsur seni rupa yang disusun tidak terbatas

pada bentuk-bentuk yang ada di alam. Garis, bentuk, dan warna

ditampilkan tanpa mengindahkan bentuk asli di alam. Kadinsky dan Piet

Mondrian marupakan sebagian perupa beraliran abstrak ini. Seni Abstrak

ini pada dasarnya berusaha memurnikan karya seni, tanpa terikat

dengan wujud di alam.

i. Dadaisme

Adalah gerakan seni rupa modern yang memiliki kecendrungan

menihilkan hukum–hukum keindahan yang ada.Ciri utama gaya ini

adalah paduan dari berbagai karya lukisan, patung atau barang tertentu

dengan menambahkan unsur rupa yang tak lazim sebagai protes pada

keadaan sekitarnya, seperti lukisan reproduksi lukisan “Monalisa “ karya

Leonardo da Vinci tetapi diberi kumis, atau petusan laki-laki diberi

dudukan dan tandatangan, kemudian dipamerkan di suatu galeri.

j. Surealisme

Adalah penggambaran dunia fantasi psikologis yang diekspresikan

secara verbal, tertulis maupun visual. Bentuk-bentuk alam dideformasi,

sehingga penuh fantasi dan di luar kewajaran.

k. Elektisisme

Yaitu gerakan seni awal abad ke- 20 yang mengkombinasikan berbagai

sumbergaya yang ada di dunia menjadi wujud seni modern. Banyak

yang menjadi sumber inspirasi dari gaya seni ini. Antara lain, gaya seni

primitive sejumlah suku bangsa di Afrika, karya seni pra-sejarah, seni

amerika Latin, gaya esetik Mesir Purba, dan Yunani Kuno. Tokoh-tokoh

seni yang menerapkan gaya ini antasra lain Picasso (disamping sebagai

tokoh Kubisme), Paul Gaugguin, Georges Braque, Jean Arp, Henry

Moore, dan Gabo.

l. Posmodernisme

Istilah seni ini umumnya disebut seni kontemporer yaitu mengelompokan

gaya-gaya seni rupa yang sezaman dengan pengamat atau yang

menjadi kecenderungan popular dan dipilih oleh para seniman dalam

rentang lima puluh tahun terakhir hingga sekarang.

Gaya ini sering diartikan sebagai aliran yang berkembang setelah seni

modern. Jika dalam seni modern lebih memusatkan kepada ekspresi

pribadi dan penggalian gaya baru, dalam seni Posmodern ungkapan seni

lebih ditekankan kepada semantika (makna rupa) dan semiotika

(permainan tanda rupa).

5.3.3. Aspek-aspek Penilaian dalam Apresiasi Karya Seni Rupa

Untuk mengadakan penilaian terhadap karya seni rupa terapan,

berikut adalah beberapa aspek yang bisa dijadikan ukuran atau kriteria

sebuah penilaian. Dari aspek atau ukuran penilaian yang akan dibahas nanti,

tidak mutlak semua harus digunakan, karena tidak semua karya seni rupa

cocok dengan ukuran penilaian tersebut. Aspek-aspek atau ukuran penilaian

itu adalah :

a) Aspek Ide atau Gagasan

Proses kreatif dalam dunia kesenirupaan merupakan suatu proses

yang timbul dari imajinasi menjadi kenyataan. Proses mencipta suatu benda

melalui pikiran, dan melaksanakannya melalui proses sehingga masyarakat

dapat menikmati dan memanfaatkannya. Ekspresi yang muncul akibat

adanya rangsangan dari luar dan ilham dari dalam menciptakan suatu

keunikan sendiri. Keunikan ekspresi pribadi itulah yang disebut kreativitas.

b) Aspek penguasaan teknis

Teknik adalah cara untuk mewujudkan suatu ide menjadi hal-hal yang

kongkrit dan punya nilai. Ketidaktrampilan dalam penggunaan teknik akan

berdampak pada karya yang dihasilkan. Demikian dalam hal pemilihan teknik

juga harus menjadi bahan pertimbangan dalam pembuatan karya seni.

Kesalahan dalam pemilihan teknik, juga akan berdampak pada karya seni

yang dihasilkan. Itulah sebabnya aspek penguasaan teknik perlu

dipertimbangkan dalam penilaian sebuah karya seni.

c) Aspek penguasaan bahan

0

Setiap bahan mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda,

misalnya sifat rotan adalah lentur, logam adalah keras, tanah liat adalah

plastis dan masih banyak lagi. Untuk itu seorang pencipta karya seni harus

tahu betul sifat dan karakter bahan yang digunakan. Kesalahan dalam

memilih bahan juga akan berakibat pada hasil karya yang dibuatnya. Untuk

itulah aspek penguasaan bahan dalam penilaian karya seni rupa terapan

patut dipertimbangkan.

d) Aspek kegunaan

Sebagaimana dalam aspek pertimbangan penciptaan karya seni

terapan, perlu mempertimbangkan aspek kegunaan (applied), maka dalam

penilaian juga perlu mempertimbangkan aspek tersebut. Hal ini sangat

penting mengingat fungsi utama dalam seni rupa terapan adalah kegunaan.

Segi-segi penilaian yang perlu dipertimbangkan dalam kegunaan adalah segi

kenyamanan dalam penggunaan, segi keluwesan/fleksibelitas dan segi

keamanan dalam penggunaannya.

e) Aspek wujud (form)

Aspek wujud (form) adalah aspek yang berhubungan erat dengan

prinsip-prinsip komposisi. Prinsip-prinsip komposisi itu meliputi proporsi,

keseimbangan (balance), irama (ritme), kontras, klimaks, kesatuan (unity).

Prinsip itulah yang menjadi ukuran untuk menilai karya seni dari segi wujud

atau form.

f) Aspek gaya atau corak

Karya seni adalah karya perseorangan, ia lahir dari cita, visi, dan

interpretasi individual seorang seniman. Seorang yang mempunyai watak

yang keras akan tercermin karya-karya yang keras baik dalam segi bentuk,

pewarnaan ataupun dalam pemilihan dan pengelolahan tema. Gaya atau

corak seseorang dalam menciptakan karya seni, perlu juga dipertimbangkan

dalam penilaian pada sebuah apresiasi.

g) Aspek kreativitas

Kreativitas yang dimaksud di sini adalah kreativitas yang

bersangkutan dengan karya seni. Banyak cara untuk menemukan kreativitas,

misalnya dalam penggunaan media, bahan, alat, dan teknik yang berbeda

dari yang sebelumnya. Kreativitas juga bisa didapat dengan menampilkan

bentuk-bentuk baru atau memadukan unsur baru dengan yang lama. Bila-halhal

di atas dapat dicapai pada penciptaan karya seni rupa, khususnya karya

seni rupa terapan, maka penilaian dari aspek ini menjadi penting untuk

dipertimbangkan.

h) Aspek tempat

Pertimbangan tempat di mana karya itu akan diletakkan harus

mendapat perhatian dari seorang perancang karya seni rupa terapan.

Seperangkat meja kursi makan dari rotan yang dibuat untuk keperluan rumah

tangga, tentunya harus berbeda dengan seperangkat meja kursi makan dari

rotan yang dibuat untuk keperluan suatu rumah makan besar.

i) Aspek selera dan agama

Seorang seniman yang ingin membuat karya seni terapan yang dapat

digunakan oleh orang banyak, harus dapat menyesuaikan karyanya dengan

selera dan agama yang dianut oleh pasar. Dalam hal ini selera harus

dipertimbangkan hal-hal yang sedang menjadi tren di masyarakat, misalnya

dari segi model/bentuk, warna, ukuran, bahan yang digunakan. Dalam hal

agama, hal-hal yang menjadi bahan pertimbangan, misalnya penerapan motif

pada karya seni yang diciptakan, motif Bali akan lebih cocok bagi mereka

yang beragama Hindu. Hal-hal seperti itu penting karena jika tidak demikian

karya seni yang diciptakan tidak akan mendapat tempat dihati masyarakat.

 

 

5.4. Pameran Karya Seni Rupa

Aktivitas seni tidak hanya terbatas pada proses penciptaan karya seni,

tetapi bisa merembet ke aktivitas seni lainnya, dan salah satu dari aktivitas

lain itu adalah melakukan kegiatan pameran karya seni rupa.

5.4.1. Kegunaan Pameran Seni Rupa di Kelas atau di Sekolah

Pameran merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam

bidang kesenirupaan, karena kegiatan pameran baik sekali kegunaannya

baik bagi siswa, seniman, pengamat seni rupa, maupun bagi perkembangan

seni rupa pada umumnya. Melalui pameran, seorang siswa bisa

memperkenalkan karya-karyanya kepada masyarakat baik dilingkungan

sekolah ataupun masyarakat umum untuk dilihat, dinilai, dikagumi, atau

dikritik.

5.4.2. Jenis-Jenis Pameran

Pameran karya seni rupa berdasarkan pada ragam jenis karya yang

ditampilkan, dibedakan menjadi dua, yaitu pameran homogen dan pameran

heterogen. Pameran homogen, artinya pameran yang hanya menampilkan

satu karya seni rupa saja, misalnya pameran lukisan, pameran patung,

pameran keramik dan lain sebagainya.

Pameran heterogen, artinya pameran yang sekaligus menampilkan

berbagai jenis karya seni rupa, misalnya pameran seni kriya, pameran

lukisan, pameran patung, pameran keramik dan karya seni rupa lainnya

dilakukan dalam satu ruang pameran dan dilakukan dalam waktu bersamaan.

Pameran seni rupa yang diselenggarakan dalam kaitannya dengan

pendidikan seni rupa di sekolah, biasanya merupakan pameran heterogen,

karena menampilkan jenis karya seni rupa yang beragam mulai dari lukisan,

patung, ukiran, keramik, karya kerajinan, dan karya seni rupa lainnya.

Pameran berdasarkan pada jumlah seniman yang tampil, pameran

dapat dibedakan ke dalam :

a.Pameran perorangan atau pameran tunggal

b.Pameran kelompok, baik kelompok seniman dalam satu sanggar atau

satu almamater, kelompok seniman dalam satu aliran dan kelompok

lainnya.

 

5.4.3. Manfaat pameran seni rupa di lingkungan sekolah

a) Meningkatkan kemampuan berkarya

Dengan adanya pameran, karya-karya para siswa akan dilihat oleh

masyarakat sehingga para siswa dituntut untuk menghasilkan karyanya yang

terbaik. Di sini akan terjadi persaingan yang sehat dan terarah, dan hal ini

menjadi pendorong bagi siswa untuk meningkatkan kemampuannya dalam

berkarya.

b) Dapat melakukan penilaian / evaluasi

Pameran merupakan kesempatan bagi guru untuk melihat sejauh

mana kemajuan yang dicapai oleh siswanya. Pameran dapat dikatakan

menjadi sarana untuk melakukan penilaian atau evaluasi terhadap kemajuan

dan perkembangan yang terjadi pada diri siswa. Sehingga penilaian atau

evaluasi ini dapat dimasukan dalam perhitungan nilai rapor.

Penilaian juga dilakukan oleh pihak luar sekolah seperti orang tua siswa

atau masyarakat umum yang mengunjungi pameran tersebut. Dari kesanpesan

yang mereka sampaikan tentunya dapat memberi gambaran sampai

sejauh mana keberhasilan pendidikan seni rupa di sekolah tersebut.

c) Sebagai sarana apresiasi dan hiburan

Di samping sebagai sarana untuk melakukan penilaian atau evaluasi,

kegiatan pameran dapat dijadikan sebagai sarana apresiasi. Apresiasi di sini

dapat diartikan sebagai penikmatan, pengamatan, penghargaan, atau bisa

juga penilaian terhadap karya-karya yang ditampilkan.

Penilaian yang dimaksud bukan menilai dengan angka, melainkan

suatu proses pencarian nilai-nilai seni, pemahaman isi dan pesan dari karya

seni, dan melakukan juga perbandingan-perbandingan terhadap karya seni

sehingga nantinya akan didapat sebuah penilaian yang utuh dan

komprehensif.

Dalam arti yang luas, kegiatan pameran dapat juga diartikan sebagai

sarana untuk mendapatkan hiburan. Di sini masyarakat dapat merasakan

kesenangan atau empati, merasakan suka duka seperti layaknya menonton

film atau menyaksikan pertunjukkan musik dan seni lainnya.

d) Melatih siswa untuk bermasyarakat

Melaksanakan kegiatan pameran bukanlah kerja perorangan,

melainkan kerja kelompok yang melibatkan banyak orang. Jadi, dengan

mengadakan pameran seni rupa di sekolah, mendidik para siswa untuk

bermasyarakat. Di sini para siswa dapat bekerja sama satu sama lain,

melatih untuk menghargai pendapat orang lain, dan dapat pula memberi

pendpat terhadap tim kerjanya.

5.4.4. Syarat-syarat Penyelenggaraan Pameran Seni Rupa di

Kelas atau di Sekolah

Untuk dapat menyelenggarakan pameran karya seni rupa di lingkungan

sekolah, ada beberapa hal yang harus dikerjakan, yaitu :

a. Mengumpulkan karya yang akan dipamerkan

b. Menyiapkan penjaga pameran

c. Menyiapkan ruang atau tempat dan perlengkapan pameran

d. Menata karya-karya yang akan dipamerkan

e. Menyiapkan publikasi dan dokumentasi pameran

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MATERI SENI BUDAYA KELAS 1

batik-toraja

1. Pengertian Kebudayaan dan Seni
1.1. Pengertian Kebudayaan
Menurut Koentjoroningrat (1986), kebudayaan dibagi ke dalam tiga
sistem, pertama sistem budaya yang lazim disebut adat-istiadat, kedua
sistem sosial di mana merupakan suatu rangkaian tindakan yang berpola dari
manusia. Ketiga, sistem teknologi sebagai modal peralatan manusia untuk
menyambung keterbatasan jasmaniahnya.
Berdasarkan konteks budaya, ragam kesenian terjadi disebabkan
adanya sejarah dari zaman ke zaman. Jenis-jenis kesenian tertentu
mempunyai kelompok pendukung yang memiliki fungsi berbeda. Adanya
perubahan fungsi dapat menimbulkan perubahan yang hasil-hasil seninya
disebabkan oleh dinamika masyarakat, kreativitas, dan pola tingkah laku
dalam konteks kemasyarakatan.
Koentjoroningrat mengatakan, Kebudayaan Nasional Indonesia
adalah hasil karya putera Indonesia dari suku bangsa manapun asalnya,
yang penting khas dan bermutu sehingga sebagian besar orang Indonesia
bisa mengidentifikasikan diri dan merasa bangga dengan karyanya.
Kebudayaan Indonesia adalah satu kondisi majemuk karena ia
bermodalkan berbagai kebudayaan, yang berkembang menurut tuntutan
sejarahnya sendiri-sendiri. Pengalaman serta kemampuan daerah itu
memberikan jawaban terhadap masing-masing tantangan yang memberi
bentuk kesenian, yang merupakan bagian dari kebudayaan.
Untuk lebih jelas dapat diterangkan apa-apa saja yang
menggambarkan kebudayaan, misalnya ciri khas bentuk rumah adat daerah
yang berbeda satu dengan daerah lainnya, sebagai contoh ciri khas rumah
adat di Jawa mempergunakan joglo sedangkan rumah adat di Sumatera dan
rumah adat Hooi berbentuk panggung

2. Alat Musik
Seperti halnya rumah adat, alat musik di setiap daerah pun berbeda
dengan alat musik di daerah lainnya. Jika dilihat dari perbedaan jenis
bentuk serta motif ragam hiasnya beberapa alat musik sudah dikenal di
berbagai wilayah, pengetahuan kita bertambah setelah mengetahui alat
musik seperti yang terlihat di gambar berikut ini Grantang, Tifa dan
Sampe.

3. Seni Tari
Di samping rumah adat, alat musik, Indonesia juga memiliki
keanekaragaman Seni Tari, seperti tari Saman dari Aceh dan tari Merak
dari Jawa Barat.

4. Kriya Ragam Hias
Selain kaya akan keanekaragaman musik dan tarian tradisi, Indonesia
juga kaya akan keanekaragaman hiasan serta motif-motif tradisional.
Kriya ragam hias dengan motif-motif tradisional, dan batik yang sangat
beragam dari daerah tertentu, dibuat di atas media kain, dan kayu.
Gambar berikut adalah Kriya Ragam Hias.

5. Properti Kesenian
Kesenian Indonesia memiliki beragam-ragam bentuk selain seni musik,
seni tari, seni teater, kesenian wayang golek dan topeng merupakan
ragam kesenian yang kita miliki. Wayang golek adalah salah satu bentuk
seni pertunjukan teater yang menggunakan media wayang, sedangkan
topeng adalah bentuk seni pertunjukan tari yang menggunakan topeng
untuk pendukung.

6. Pakaian Daerah
Setiap propinsi memiliki kesenian, pakaian dan benda seni yang berbeda
antara satu daerah dengan daerah lainnya. Gambar berikut adalah
pakaian daerah Kalimantan

7. Benda Seni
Kaya dan kreatif adalah sebutan yang sesuai untuk bangsa kita, karya
seni yang tidak dapat dihitung ragamnya, merupakan identitas dan
kebanggaan bangsa Indonesia. Benda seni atau souvenir yang terbuat
dari perak yang beasal dari Kota Gede di Yogyakarta adalah salah satu
karya seni bangsa yang menjadi ciri khas daerah Yogyakarta, karya seni
dapat menjadi sumber mata pencaharian dan objek wisata.Kesenian khas yang mempunyai nilai-nilai filosofi misalnya kesenian
Ondel-ondel dianggap sebagai boneka raksasa mempunyai nilai filosofi
sebagai pelindung untuk menolak bala, nilai filosofi dari kesenian Reog
Ponorogo mempunyai nilai kepahlawanan yakni rombongan tentara
kerajaan Bantarangin (Ponorogo) yang akan melamar putri Kediri dapatdiartikan Ponorogo menjadi pahlawan dari serangan ancaman musuh,
selain hal-hal tersebut, adat istiadat, agama, mata pencaharian, sistem
kekerabatan dan sistem kemasyarakatan, makanan khas, juga
merupakan bagian dari kebudayaan.
Contoh beberapa kebudayaan yang memiliki daya tarik yang tinggi bagi
turis mancanegara dan turis lokal antara lain, adat istiadat di Tana Toraja,
kebiasaan perempuan suku Dayak di Kalimantan yang senang
menggunakan anting yang panjang, berat dan banyak, upacara ngaben
(pembakaran mayat) di Bali.
Berikut diuraikan contoh adat istiadat atau sistem kemasyarakatan di
Tana Toraja yang meliputi :

8. Adat Istiadat
1. Suku Toraja
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian
utara Sulawesi Selatan, Indonesia.
Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan
dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan
sebutan To Riaja, artinya “Orang yang berdiam di negeri atas atau
pegunungan”, sedangkan orang Luwu menyebutnya To Riajang, artinya
orang yang berdiam di sebelah barat. Ada juga versi lain kata Toraya. To
= Tau (orang), Raya = Maraya (besar), artinya orang orang besar,
bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan
kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja
dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
Di wilayah Tana Toraja juga digelar “Tondok Lili’na Lapongan
Bulan Tana Matari’ollo”, arti harfiahnya, “Negeri yang bulat seperti bulan
dan matahari”. Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).upacara pemakaman yang biasa disebut “Rambu Tuka”. Di Tana Toraja
mayat tidak di kubur melainkan diletakan di “Tongkanan“ untuk beberapa
waktu. Jangka waktu peletakan ini bisa lebih dari 10 tahun sampai
keluarganya memiliki cukup uang untuk melaksanakan upacara yang
pantas bagi si mayat. Setelah upacara, mayatnya dibawa ke
peristirahatan terakhir di dalam Goa atau dinding gunung.
Tengkorak-tengkorak itu menunjukan pada kita bahwa, mayat itu
tidak dikuburkan tapi hanya diletakan di batuan, atau dibawahnya, atau di
dalam lubang. Biasanya, musim festival pemakaman dimulai ketika padi
terakhir telah dipanen, sekitar akhir Juni atau Juli, paling lambat
September.
Peti mati yang digunakan dalam pemakaman dipahat menyerupai
hewan (Erong). Adat masyarakat Toraja antara lain, menyimpan jenazah
pada tebing/liang gua, atau dibuatkan sebuah rumah (Pa’tane).
Rante adalah tempat upacara pemakaman secara adat yang
dilengkapi dengan 100 buah “batu”, dalam Bahasa Toraja disebut
Simbuang Batu. Sebanyak 102 bilah batu yang berdiri dengan megah
terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah sedang, dan 54 buah kecil.
Ukuran batu ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut
hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat
pembuatan/pengambilan batu. Simbuang Batu hanya diadakan bila
pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan
dalam tingkat “Rapasan Sapurandanan” (kerbau yang dipotong sekurangkurangnya
24 ekor)

2. Ngaben – pembakaran Jenasah di Bali
Ngaben adalah upacara pembakaran mayat, khususnya oleh
mereka yang beragama Hindu, dimana Hindu adalah agama mayoritas di
Pulau Seribu, k h u s u s n y a d i B a l i . Di dalam “Panca Yadnya”,
upacara ini termasuk dalam “Pitra Yadnya”, yaitu upacara yang
ditujukan untuk roh lelulur

3. Suku Dayak
Sejak abad ke 17, Suku Dayak di Kalimantan mengenal tradisi
penandaan tubuh melalui tindik di daun telinga. Tak sembarangan orang
bisa menindik diri hanya pemimpin suku atau panglima perang yang
mengenakan tindik di kuping, sedangkan kaum wanita Dayak
menggunakan anting-anting pemberat untuk memperbesar kuping daung
daun telinga, menurut kepercayaan mereka, semakin besar pelebaran
lubang daun telinga semakin cantik, dan semakin tinggi status sosialnya
di masyarakat.
Sumber

Kegiatan-kegiatan adat budaya ini selalu dikaitkan dengan
kejadian penting dalam kehidupan seseorang atau masyarakat. Berbagai
kegiatan adat budaya ini juga mengambil bentuk kegiatan-kegiatan seni
yang berkaitan dengan proses inisiasi perorangan seperti kelahiran,
perkawinan dan kematian ataupun acara-acara ritus serupa selalu ada
unsur musik, tari, sastra, seni rupa. Kegiatan-kegiatan adat budaya ini
disebut Pesta Budaya. Manifestasi dari aktivitas kehidupan budaya
masyarakat merupakan miniatur yang mencerminkan kehidupan sosial
yang luhur, gambaran wajah apresiasi keseniannya, gambaran identitas
budaya setempat.
Kegiatan adat budaya ini dilakukan secara turun temurun dari
zaman nenek moyang dan masih terus berlangsung sampai saat ini,
sehingga seni menjadi perekam dan penyambung sejarah.
Jadi, dapat disimpulkan yang disebut dengan kebudayaan adalah
pikiran, karya, teknologi dan rangkaian tindakan suatu kelompok
masyarakat.
Berbicara tentang apresiasi seni, kita ketahui terlebih dahulu yang
disebut seni dan klasifikasinya.

1.3. Sifat Dasar Seni
Berdasarkan hasil telaah terhadap teori-teori seni, disimpulkan bahwa seni
memiliki sekurang-kurangnya 5 ciri yang merupakan sifat dasar seni (Gie,
1976:41-46). Uraian mengenai sifat dasar seni adalah sebagai berikut:
a. Ciri pertama adalah sifat kreatif dari seni. Seni merupakan suatu
rangkaian kegiatan manusia yang selalu mencipta karya baru.
b. Ciri kedua adalah sifat individualitas dari seni. Karya seni yang diciptakan
oleh seorang seniman merupakan karya yang berciri personal, Subyektif
dan individual. Sebagai contoh, (1) Lagu ciptaan Iwan Fals terdengar
berbeda dari lagu ciptaan Ebiet G. Ade; (2) Lukisan Lucia hartini yang
bercorak Surrealisme menampilkan kekuatan daya fantasi atau imajinasi
alam mimpi melalui penguasaan teknik melukis yang piawai.
c. Ciri ketiga adalah seni memiliki nilai ekspresi atau perasaan. Dalam
mengapresiasi dan menilai suatu karya seni harus memakai kriteria atau
ukuran perasaan estetis. Seniman mengekspresikan perasaan estetisnya
ke dalam karya seninya lalu penikmat seni (apresiator) menghayati,
memahami dan mengapresiasi karya tersebut dengan perasaannya.
Sebagai contoh, (1) lagu “Imagine” karya John Lennon merupakan
ungkapan kepeduliannya terhadap nilai-nilai humanisme dan perdamaian
sehingga menggugah perasaan siapapun yang mendengar.
d. Ciri keempat adalah keabadian sebab seni dapat hidup sepanjang masa.
Konsep karya seni yang dihasilkan oleh seorang seniman dan diapresiasi
oleh masyarakat tidak dapat ditarik kembali atau terhapuskan oleh waktu.
Sebagai contoh, (1) lagu Indonesia Raya karangan WR. Supratman
sampai saat ini masih tetap abadi dan diapresiasi masyarakat walaupun
beliau telah wafat; (2) Karya-karya lukis S. Sudjojono dan Affandi sampai
saat ini masih diapresiasi oleh masyarakat dan sangat diminati oleh para
kolektor lukisan walaupun beliau telah wafat
e. Ciri kelima adalah semesta atau universal sebab seni berkembang di
seluruh dunia dan di sepanjang waktu. Seni tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan masyarakat. Sejak jaman pra sejarah hingga jaman modern ini
orang terus membuat karya seni dengan beragam fungsi dan wujudnya
sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Sebagai contoh, (1)
desain mode pakaian terus berkembang sesuai trend-mode yang selalu
berubnah dari waktu ke waktu dan banyak mempengaruhi gaya hidup
masyarakat metropolitan; (2) Di banyak negara di dunia seperti Belanda,
Inggris, Jepang, Cina, Indonesia dan sebagainya dijumpai produk keramik
dalam berbagai bentuk dan fungsinya.

1.4. Struktur Seni
The Liang Gie (1976-70) menjelaskan bahwa dalam semua jenis kesenian
terdapat unsur-unsur yang membangun karya seni sebagai berikut:
a. Struktur seni merupakan tata hubungan sejumlah unsur-unsur seni yang
membentuk suatu kesatuan karya seni yang utuh. Contoh struktur seni
dalam bidang seni rupa adalah garis, warna, bentuk, bidang dan tekstur.
Bidang seni musik adalah irama dan melodi. Bidang seni tari adalah
wirama, wirasa dan wiraga. Bidang seni teater adalah gerak, suara dan
lakon.
b. Tema merupakan ide pokok yang dipersoalkan dalam karya seni. Ide
pokok suatu karya seni dapat dipahami atau dikenal melalui pemilihan
subject matter (pokok soal) dan judul karya. Pokok soal dapat
berhubungan dengan niat estetis atau nilai kehidupan, yakni berupa:
objek alam, alam kebendaan, suasana atau peristiwa yang metafora atau
alegori. Namun tidak semua karya memiliki tema melainkan kritik.
c. Medium adalah sarana yang digunakan dalam mewujudkan gagasan
menjadi suatu karya seni melalui pemanfaatan material atau bahan dan
alat serta penguasaan teknik berkarya. Tana medium tak ada karya seni.
Pada seni rupa mediumnya adalah objek estetik dua dimensi (lukisan cat
air, etsa, cukil, kayu, dan lain-lain), objek estetik tita dimensi (patu batu,
relief logam, ukiran kayu). Semua jenis seni mempergunakan medium,
seni musik mempergunakan medium bunyi (nada), kalau seni tari
mempergunakan medium gerak, seni teater mempergunakan semua itu
oleh sebab itu teater dikatakan seni yang mempergunakan multimedia,
seni sastra mempergunakan keta-keta sebagai medium, seni lukis
mempergunakan garis, bidang dan warna, kalau seni sastra
menggunakan kataa sebagai medium. Kalau seni dapat dianggap sebagai
bahasa maka setiap cabang seni memiliki bahasa tersendiri, sastra
memiliki bahasa verbal, seni rupa memiliki bahasa plastis, seni tari
memiliki bahasa kinetis, seni musik bahasa audio, seni lukis memiliki
bahasa visual, begitu pula seni memiliki dimensi, seni musik mempunyai
dimensi waktu, seni tari memiliki dimensi gerak, dan seni rupa memiliki
dimensi ruang.
d. Gaya atau style dalam karya seni merupakan ciri ekspresi personal yang
khas dari si seniman dalam menyajikan karyanya. Menurut Soedarso SP
(1987:79), gaya adalah ciri bentuk luar yang melekat pada wujud karya
seni, sedangkan aliran berkaitan dengan isi karya seni yang
merefleksikan pandangan atau prinsip si seniman dalam menanggapi
sesuatu.

1.5. Pengertian Nilai Seni
Secara umum kata “nilai” diartikan sebagai harga, kadar, mutu atau
kualitas. Untuk mempunyai nilai maka sesuatu harus memiliki sifat-sifat yang
penting yang bermutu atau berguna dalam kehidupan manusia
(Purwadarminto, 1976:667). Dalam estetika, “nilai” diartikan sebagai
keberhargaan (worth) dan kebaikan (goodness). Menurut Koentjaraningrat,
“nilai” berarti suatu ide yang paling baik, yang menjunjung tinggi dan menjadi
pedoman manusia/masyarakat dalam bertingkah laku, mengapresiasi cinta,
keindahan, keadilan, dan sebagainya
Nilai seni dipahami dalam pengertian kualitas yang terdapat dalam
karya seni, baik kualitas yang bersifat kasat mata maupun yang tidak kasat
mata. Nilai-nilai yang dimiliki karya seni merupakan manifestasi dari nilai-nilai
yang dihayati oleh seniman/seniwati dalam lingkungan sosial budaya
masyarakat yang kemudian diekspresikan daam wujud karya seni dan
dikomunikasikan kepada penikmatnya (publik seni).
Ragam Nilai Seni
Peran keindahan selalu terkait dengan kehidupan sosial budaya
manusia sehari-hari, misalnya: dalam arsitektur rumah tinggal, menata
interior/eksterior, berbusana, menikmati keindahan musik dan sebagainya.
Manusia memerlukan keindahan karena memberikan kesenangan, kepuasan,
sesuatu yang menyentuh perasaan. Perasaan keindahan diperoleh dari alam
dan benda atau karya seni.
Namun dalam perkembangannya, karya seni dicptakan tidak selalu
untuk menyenangkan perasaan manusia. Karya seni dapat memberikan
perasaan terkejut, namun tetap memberikan nilai-nilai yang diperlukan
manusia, seperti perenungan, pemikiran, ajakan, penyadaran, pencerahan,
dan lain sebagainya.
Menurut The Liang Gie jenis nilai yang melekat pada seni mencakup:
1) nilai keindahan, 2) nilai pengetahuan, 3) nilai kehidupan, masing-masing
mempunyai pengertian sebagai berikut :
a. Nilai keindahan dapat pula disebut nilai estetis, merupakan salah satu
persoalan estetis yang menurut cakupan pengertiannya dapat dibedakan
menurut luasnya pengertian, yakni: a) keindahan dalam arti luas
(keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan keindahan
intelektual), b) keindahan dalam arti estetis murni, b) keindhaan dalam arti
estetis murni, c) keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya
dengan penglihatan. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya
dengan penglihatan pada prinsipnya mengkaji tentang hakikat keindahan
dan kriteria keindahan yang terdapat di alam, dalam karya seni dan
benda-benda lainnya.
b. Dalam kecenderungan perkembangan seni dewasa ini, keindahan positif
tidak lagi menjadi tujuan yang paling penting dalam berkesenian. Sebagaiestetis legatif (ugliness) daripada menyenangkan atau memuaskan
mereka (T.L. Gie, 1976:40). Fenomena semacam ini akan kita jumpai
pada karya-karya seni primitir atau karya seni lainnya yang tidak
mementingkan keidahan tampilan visual namun lebih mementingkan
makna simboliknya. “Ugliness” dalam karya seni termasuk nilai estetis
yang negatif. Jadi sesungguhnya dalam karya seni terdapat nilai estetis
yang positif dan negatif.
Contoh, pameran fotografi Anjasmara dan Isabele Yahya yang
bertemakan Adam dan Hawa yang dinilai sebagai kesenian yang bernilai
estetis negatif.

1.6. Pengertian Ekspresi
Ekspresi adalah proses ungkapan emosi atau perasaan di dalam
proses penciptaan karya seni, proses ekspresi bisa diaktualisasikan melalui
media. Media musik bunyi; media seni rupa adalah garis, bidang dan warna;
media tari adalah gerak, media teaer adalah gerak, suara dan lakon.
1.7. Pengertian Genre (Jenis/Fungsi) Seni
Menurut kritikus tari terkenal di Indonesia, Sal Murgiyanto aspek
penting lain yang harus diperhatikan adalah, fungsi atau tujuan sebuah
pertunjukan. Sebuah pertunjukan dapat dilakukan sebagai sebuah
persembahan/doa/puji kepada arwah leluhur, ungkapan bakti kepada Dewa,
Tuhan, atau penguasa semesta alam. Dapat juga dilakukan untuk menghibur
diri pelakunya dan atau orang lain, untuk meneguhkan identitas atau
menguatkan nilai-nilai yang diyakini seseorang atau sekelompok orang, dan
bagi kenikmatan ragawi (pleasure) pelaku dan penontonnya.
Fungsi kesenian dianggap tak berbeda dengan fungsi ritual.
Kerumitan bentuk-bentuk kesenian mendorong kita untuk memilih istilah,
kesenian ritual dan kesenian hiburan komersial. Kriteria klasifikasi ini dapat
dikatakan sebagai ungkapan jenis kesenian.
Sal Murgiyanto (2004) mengatakan, sesuatu karya harus indah.
Pandangan ini juga didukung oleh Liang Gie Bapak Estetika seni (1964) yang
menyatakan bahwa, ciri pokok seni adalah ekspresi, oleh karena itu,
penilaian terhadap karya seni harus dilakukan berdasarkan ukuran perasaan
estetis dan nilai-nilai.

Fungsi Seni
Fungsi-fungsi seni terdiri atas fungsi ritual, pendidikan, komunikasi,
hiburan, artistik dan fungsi guna.
Sumber : Endo Suanda
Gambar 1.20. Macam-macam Fungsi Seni
Bagaimana kita dapat mengidentifikasikan sebuah karya seni
khususnya kesenian tradisi berdasarkan fungsi-fungsinya. Berikut diuraikan
tentang fungsi-fungsi seni.
Fungsi Ritual
Suatu pertunjukan yang digunakan untuk sebuah upacara yang berhubungan
dengan upacara kelahiran, kematian, ataupun pernikahan.
Contoh : Gamelan yang dimainkan pada upacara Ngaben di Bali yakni
gamelan Luwang, Angklung, dan Gambang.
Gamelan di Jawa Gamelan Kodhok Ngorek, Monggang, dan
Ageng.
Fungsi Pendidikan
Seni sebagai media pendidikan misalnya musik.
Contoh : Ansambel karena didalamnya terdapat kerjasama, Angklung
dan Gamelan juga bernilai pendidikan dikarenakan kesenian
tersebut mempunyai nilai sosial, kerjasama, dan disiplin.
Fungsi Komunikasi
Suatu pertunjukan seni dapat digunakan sebagai komunikasi atau kritik sosial
melalui media seni tertentu seperti, wayang kulit, wayang orang dan seni
teater, dapat pula syair sebuah lagu yang mempunyai pesan.

Fungsi Hiburan
Seni yang berfungsi sebagai hiburan, sebuah pertunjukan khusus untuk
berekspresi atau mengandung hiburan, kesenian yang tanpa dikaitkan
dengan sebuah upacara ataupun dengan kesenian lain.
Fungsi Artistik
Seni yang berfungsi sebagai media ekspresi seniman dalam menyajikan
karyanya tidak untuk hal yang komersial, misalnya terdapat pada musik
kontemporer, tari kontemporer, dan seni rupa kontemporer, tidak bisa
dinikmati pendengar/pengunjung, hanya bisa dinikmati para seniman dan
komunitasnya.
Fungsi Guna (seni terapan)
Karya seni yang dibuat tanpa memperhitungkan kegunaannya kecuali
sebagai media ekspresi disebut sebagai karya seni murni, sebaliknya jika
dalam proses penciptaan seniman harus mempertimbangkan aspek
kegunaan, hasil karya seni ini disebut seni guna atau seni terapan.
Contoh : Kriya, karya seni yang dapat dipergunakan untuk perlengkapan/
peralatan rumah tangga adalah Gerabah dan Rotan.
Fungsi Seni untuk Kesehatan (Terapi)
Pengobatan untuk penderita gangguan physic ataupun medis dapat
distimulasi melalui terapi musik, jenis musik disesuaikan dengan latar
belakang kehidupan pasien.
Terapi musik telah terbukti mampu digunakan untuk menyembuhkan
penyandang autisme, gangguan psikologis trauma pada suatu kejadian, dan
lain-lain.
Seperti yang telah dikatakan Siegel (1999) menyatakan bahwa musik
klasik menghasilkan gelombang alfa yang menenangkan yang dapat
merangsang sistem limbic jarikan neuron otak. Selanjutnya dikatakan oleh
Gregorian bahwa gamelan dapat mempertajam pikiran

1.8. Pengertian Apresiasi Seni
Menikmati, menghayati dan merasakan suatu objek atau karya seni
lebih tepat lagi dengan mencermati karya seni dengan mengerti dan peka
terhadap segi-segi estetiknya, sehingga mampu menikmati dan memaknai
karya-karya tersebut dengan semestinya.
Kegiatan apresiasi meliputi :
a. Persepsi
Kegiatan ini mengenalkan pada anak didik akan bentuk-bentuk karya
seni di Indonesia, misalnya, mengenalkan tari-tarian, musik, rupa, dan
teater yang berkembang di Indonesia, baik tradisi, maupun moderen.
Pada kegiatan persepsi kita dapat mengarahkan dan meningkatkan
kemampuan dengan mengidentifikasi bentuk seni.
b. Pengetahuan
Pada tahap ini pengetahuan sebagai dasar dalam mengapresiasi baik
tentang sejarah seni yang diperkenalkan, maupun istilah-istilah yang
biasa digunakan di masing-masing bidang seni.
c. Pengertian
Pada tingkat ini, diharapkan dapat membantu menerjemahkan tema
ke dalam berbagai wujud seni, berdasarkan pengalaman, dalam
kemampuannya dalam merasakan musik.
d. Analisis
Pada tahap ini, kita mulai mendeskripsikan salah satu bentuk seni
yang sedang dipelajari, menafsir objek yang diapresiasi.
e. Penilaian
Pada tahap ini, lebih ditekankan pada penilaian tehadap karya-karya
seni yang diapresiasi, baik secara subyektif maupun obyektif.
f. Apresiasi
Apresiasi merupakan bagian dari tujuan pendidikan seni di sekolah
yang terdiri dari tiga hal; value ( nilai ), empathy dan feeling. Value
adalah kegiatan menilai suatu keindahan seni, pengalaman estetis
dan makna / fungsi seni dalam masyarakat. Sedangkan empathy,
kegiatan memahami, dan menghargai. Sementara feeling, lebih pada
menghayati karya seni, sehingga dapat merasakan kesenangan pada
karya seni .

Sejalan dengan rumusan di atas S.E. Effendi mengungkapkan bahwa
apresiasi adalah mengenali karya sehingga menumbuhkan pengertian,penghargaan, kepekaan untuk mencermati kelebihan dan kekurangan
terhadap karya.
Menurut Soedarso (1987) ada tiga pendekatan dalam melakukan apresiasi
yakni : 1). pendekatan aplikatif, 2). pendekatan kesejarahan, 3). pendekatan
problematik.
Pendekatan aplikatif, adalah pendekatan dengan cara melakukan
sendiri macam-macam kegiatan seni. Pendekatan kesejarahan adalah,
dengan cara menganalisis dari sisi periodisasi dan asal usulnya. Sedangkan
pendekatan problematik, dengan cara memahami permasalahan di dalam
seni.
Seorang pengamat akan berbeda dengan pengamat lainnya dalam
menilai sebuah pertunjukan seni. Hal ini didasarkan pada pengalaman
estetik, dan latar belakang pendidikan yang berbeda.
Bahasan kajian dalam mengapresiasi seni pada tingkatan awal dengan
pendekatan aplikatif adalah sebagai berikut:
Seni Musik Klasik
• Ciri khas musiknya
• Bentuk musik dari zamannya
• Struktur musiknya
• Gaya musiknya
Seni Musik Tradisi
• Ciri-ciri khas musiknya : – Laras
– Pola tabuhan
– Instrumen yang dimainkan
– Struktur musiknya
– Gaya musiknya
• Fungsi seni
• Ekspresif (nilai-nilai keindahan)
• Makna / pesan yang terkandung
Seni Tari Kreatif
• Mencermati identifikasi gerak
• Mencermati keharmonisan gerak dan musik
• Mencermati kreativitas gerak
• Mencermati kemampuan wiraga / kelenturan
• Mengidentifikasi jenis tari berdasarkan garapan
• Mengidentifikasi tari berdasarkan orientasi
• Mengidentifikasi berdasarkan fungsinyaSeni Teater
• Mengidentifikasi perbedaan teater dan film
• Mengidentifikasi keberhasilan suatu pementasan
• Mengidentifikasi nada ucapan dan makna dalam dialog
• Mengidentifikasi plot lakon
Seni Rupa
• Makna
• Gaya
• Material
• Elemen
• Estetika

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SENI BUDAYA KELAS 2 SMK NEGERI 1 BONE-BONE

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )

Nama Sekolah    :    SMK NEGERI 1 BONE-BONE
Mata Pelajaran     :     Seni Budaya
Kelas/Semester    :     X / 1
Alokasi Waktu    :    4 jam pelajaran (2 x pertemuan)

A.    Standar Kompetensi
1.    Mengapresiasi karya seni rupa

B.    Kompetensi Dasar
1.1    Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat
1.2    Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat

C.    Indikator Pencapaian Kompetensi    :
Indikator Pencapaian Kompetensi    Nilai Budaya Dan
Karakter Bangsa
    Menjelaskan pengertian seni rupa terapan
    Menyebutkan dan menjelaskan keunikan karya seni rupa terapan (ukiran) daerah Madura
    Menyebutkan dan menjelaskan keunikan teknik seni rupa ukiran daerah Madura
    Menyebutkan model/corak ukiran Madura
    Menggambar motif-motif ukiran Madura
    Menyebutkan sikap apresiatif masyarakat Madura terhadap karya seni rupa terapan    Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif :
    Kreatif (Mengemukakan gagasan baru)
    Mandiri (Mampu mencari sumber belajar sendiri)
    Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
    Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
    Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)

D.    Tujuan Pembelajaran
    Siswa dapat mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat
    Siswa dapat menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat

E.    Materi Pembelajaran
Pertemuan Ke-1 dan 2
1.     Karya seni rupa terapan adalah karya seni yang dirancang untuk tujuan fungsional/kegunaan yakni memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis
2.     Sikap apresiatif merupakan sikap menghargai, mengagumi, menilai, menikmati dan menghayati hasil karya dalam hal ini seni ukir Madura.
3.     Seni ukir Madura pada umumnya bermotif daun-daunan, kaku tetapi tampak gagah (megah)

F.    Metode Pembelajaran
    Diskusi kelompok, tanya jawab, inkuiri, dan penugasan

Strategi Pembelajaran
Tatap Muka    Terstruktur    Mandiri
•    Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat
•    Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat        Keunikan gagasan dan teknik seni rupa terapan daerah
•    Sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik seni rupa terapan daerah Madura        Siswa dapat  Diskusi dan tanya jawab membahas keunikan gagasan dan teknik seni rupa terapan daerah Madura
    Siswa dapat  Praktik menggambar motif cakra
•    Siswa dapat  Diskusi tentang sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik seni rupa terapan daerah Madura

G.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Ke-1 dan 2
Pendahuluan
Apersepsi:
Siswa diajak mengingat pemahaman tentang karya seni rupa
Motivasi:
Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam mengapresiasi karya seni rupa terapan
Kegiatan Inti
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi :
•    Dengan berdialog dan berdiskusi, siswa diajak memahami keunikan gagasan dan teknik seni rupa terapan daerah
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi :
•    Dengan berdiskusi dan tanya jawab siswa diajak mengapresiasi terhadap keunikan gagasan teknik seni rupa terapan daerah Madura
•        Siswa mengerjakan tugas latihan soal-soal tentang apresiasi karya seni rupa terapan
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
•    Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis,);

Penutup
•    Dengan bimbingan guru siswa diminta untuk membuat rangkuman materi
•    Siswa dan guru melakukan refleksi
•    Guru memberikan tugas rumah (PR)

H.    Alat dan Bahan
1.     Alat : alat gambar
2.     Sumber belajar :
    Buku paket
    Buku lain yang relevan (LKS)

I.    Penilaian
1.    Teknik/jenis : kuis dan tugas individu
2.    Bentuk instrumen: pertanyaan lisan dan tes tertulis
3.    Instrumen/soal:
1.    Jelaskan yang disebut karya seni rupa terapan!
2.    Sebutkan keunikan gagasan ukiran daerah Madura!
3.     Sebutkan minimal tiga keunikan teknik seni rupa terapan daerah Madura!
4.     Sebutkan motif-motif ukiran Madura!
5.    Bagaimana saran Anda agar ukiran Madura lebih maju dan berkembang!
Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir = perolehan skor/skor maksimum (70) x skor ideal (100)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )

Nama Sekolah    :    SMK NEGERI 1 BONE-BONE
Mata Pelajaran     :     Seni Budaya
Kelas/Semester    :     X / 1
Alokasi Waktu    :    4 jam pelajaran (2 x pertemuan)

A.    Standar Kompetensi
2.    Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

B.    Kompetensi Dasar
2.1    Merancang karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat
2.2    Membuat karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat

C.    Indikator Pencapaian Kompetensi    :
Indikator Pencapaian Kompetensi    Nilai Budaya Dan
Karakter Bangsa
    Menjelaskan tentang merancang karya seni rupa terapan
    Menyebutkan persiapan-persiapan merancang karya seni rupa dengan teknik dan corak daerah Jepara
    Mempraktikkan teknik-teknik pembuatan ukiran
    Menyebutkan dan menggambar macam-macam pola ukiran
    Menyebutkan alat-alat yang digunakan dalam pembuatan ukiran
    Membuat karya seni rupa terapan secara sederhana, dengan berkelompok.    Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif :
    Kreatif (Mengemukakan gagasan baru)
    Mandiri (Mampu mencari sumber belajar sendiri)
    Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
    Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
    Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)
D.    Tujuan Pembelajaran
    Siswa dapat merancang karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat
    Siswa dapat membuat karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat

E.    Materi Pembelajaran
Pertemuan Ke-3 dan 4
1.     Dalam merancang seni ukir perlu persiapan-persiapan antara lain persiapan konstruksi barang, persiapan pola gambar hiasan dan ukiran
2.     Dalam membuat karya seni ukir diperlukan alat-alat pokok, alat dan perkakas perlengkapan, dan urutan pelaksanaan mengukir

F.    Metode Pembelajaran
    Diskusi kelompok, tanya jawab, inkuiri, dan penugasan

Strategi Pembelajaran
Tatap Muka    Terstruktur    Mandiri
•    Merancang karya seni rupa terapan dengan  memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat
•    Membuat karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat    •    Merancang karya seni rupa terapan daerah Jepara
•    Membuat karya seni rupa terapan    •    Siswa dapat  Diskusi dan tanya jawab tentang cara merancang karya seni rupa terapan daerah Jepara
•    Siswa dapat  Praktik menggambar pola ukiran
•    Siswa dapat  Tanya jawab tentang cara membuat karya seni rupa terapan

G.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Ke-3 dan 4
Pendahuluan
Apersepsi:
Siswa diajak mengingat pemahaman tentang apresiasi karya seni rupa terapan daerah Madura

Motivasi:
Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam merancang dan
membuat karya seni rupa daerah Jepara

Kegiatan Inti
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi :
•    Dengan berdialog dan berdiskusi, siswa diajak memahami persiapan dalam membuat rancangan
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi :
•    Dengan berdiskusi dan tanya jawab siswa diajak memahami masalah yang berkaitan dengan cara membuat karya seni rupa terapan
•    Siswa mengerjakan tugas latihan soal-soal tentang cara merancang dan membuat karya seni ukir

Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
•    Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis,);

Penutup
•    Dengan bimbingan guru siswa diminta untuk membuat rangkuman materi (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Siswa dan guru melakukan refleksi(nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Guru memberikan tugas rumah (PR) (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);

H.    Alat dan Bahan
1.     Alat : peralatan mengukir
2.     Sumber belajar :
    Buku paket
    Buku lain yang relevan (LKS)
I.    Penilaian
1.    Teknik/jenis : kuis dan tugas individu
2.     Bentuk instrumen: pertanyaan lisan dan tes tertulis
3.    Instrumen/soal:
1.     Sebutkan tiga teknik membuat pola ukiran!
2.     Jelaskan yang disebut pola ukiran endong!
3.    Sebutkan alat-alat pokok mengukir kayu!
4.     Sebutkan macam-macam pahat, gambarkan salah satunya!
5.     Sebutkan macam-macam cara pemolesan!

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir = perolehan skor/skor maksimum (70) x skor ideal (100)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )

Nama Sekolah    :    SMK NEGERI 1 BONE-BONE
Mata Pelajaran     :     Seni Budaya
Kelas/Semester    :     X / 1
Alokasi Waktu    :    4 jam pelajaran (2 x pertemuan)

A.    Standar Kompetensi
3.    Mengapresiasi karya seni musik

B.    Kompetensi Dasar
3.1    Mengidentifikasi fungsi dan latar belakang musik tradisional dalam konteks budaya masyarakat setempat
3.2    Mengungkapkan pengalaman musikal dari hasil pengamatan terhadap pertunjukan musik tradisional setempat
3.3    Menunjukkan nilai-nilai musikal dari hasil pengalaman musikal yang didapatkan melalui pertunjukan musik tradisional setempat

C.    Indikator Pencapaian Kompetensi    :
Indikator Pencapaian Kompetensi    Nilai Budaya Dan
Karakter Bangsa
    Menjelaskan fungsi-fungsi musik tradisional
    Menjelaskan latar belakang musik tradisional
    Menyebutkan jenis-jenis musik tradisional Riau, Sulawesi Selatan
    Menyebutkan dan menjelaskan nilai-nilai musik tradisional    Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif :
    Kreatif (Mengemukakan gagasan baru)
    Mandiri (Mampu mencari sumber belajar sendiri)
    Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
    Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
    Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)

D.    Tujuan Pembelajaran
    Siswa dapat Mengidentifikasi fungsi dan latar belakang musik tradisional dalam konteks budaya masyarakat setempat
    Siswa dapat mengungkapkan pengalaman musikal dari hasil pengamatan terhadap pertunjukan musik tradisional setempat
    Siswa dapat menunjukkan nilai-nilai musikal dari hasil pengalaman musikal yang didapatkan melalui pertunjukan musik tradisional setempat

E.    Materi Pembelajaran
Pertemuan Ke-5 dan 6
1.     Musik tradisional adalah musik yang lahir dari budaya daerah yang sudah ada sejak nenek moyang, diwariskan secara turun-temurun, alat dan penyajiannya sederhana
2.     Fungsi musik tradisional adalah untuk: mengiringi pergelaran (teater daerah), mengiringi gerak tari daerah/klasik, sarana hiburan para bangsawan, mengiringi upacara adat dan religius, Memperkaya pengalaman jiwa
3.     Musik daerah Jawa Tengah adalah gamelan
4. Musik daerah Riau adalah orkes Melayu dan musik gambus
5.     Musik tradisional Sulawesi Selatan adalah musik Bugis dan musik Makasar (Ujung Pandang)
6.     Dalam pengamatan terhadap pertunjukan musik tradisional terutama gamelan Jawa Tengah ternyata banyak bagian-bagian alat gamelan, yang fungsinya berbeda-beda
7.     Nilai-nilai musikal pertunjukan musik Jawa Tengah adalah religius, pengungkapan ekspresi, nilai komunikatif, nilai budi pekerti luhur, nilai kebersamaan/kegotongroyongan
8.     Musik Betawi (gambang kromong) bernilai hiburan humor agar orang tertawa (terhibur)
9.     Musik daerah Nias bernilai magis, untuk mendatangkan roh-roh gaib

F.    Metode Pembelajaran
    Diskusi kelompok, tanya jawab, inkuiri, dan penugasan

Strategi Pembelajaran
Tatap Muka    Terstruktur    Mandiri
•    Mengidentifikasi fungsi dan latar belakang musik tradisional dalam konteks budaya masyarakat setempat
•    Mengungkapkan pengalaman musikal dari hasil pengamatan terhadap pertunjukan musik tradisional setempat
•    Menunjukkan nilainilai musikal dari hasil pengalaman musikal yang didapatkan melalui pertunjukan musik tradisional setempat        Fungsi musik tradisional
    Latar belakang musik tradisional
    Pengalaman musikal dari pengamatan pertunjukan
•    Nilai-nilai  musikal melalui pertunjukan musik    •    Siswa dapat  Diskusi dan tanya jawab membahas fungsi musik tradisional
•    Tanya jawab tentang latar belakang musik tradisional
•    Diskusi tentang gamelan sekaten
•    Tanya jawab tentang nilai-nilai musikal

G.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Ke-5 dan 6
Pendahuluan
Apersepsi:
Siswa diajak mengingat pemahaman tentang merancang dan membuat karya seni ukir

Motivasi:
Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam memahami tentang apresiasi seni musik tradisional

Kegiatan Inti
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi :
•    Dengan berdialog dan berdiskusi, siswa diajak memahami fungsi musik tradisional
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi :
•    Dengan berdiskusi dan tanya jawab siswa diajak memahami masalah yang berkaitan dengan latar belakang musik tradisional
•    Dengan praktik siswa menyaksikan musik sekaten dan mengapresiasinya
•    Siswa mengerjakan tugas latihan soal-soal tentang musik tradisional
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
•    Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis,);

Penutup
•    Dengan bimbingan guru siswa diminta untuk membuat rangkuman materi (nilai yang ditanamkan: ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Siswa dan guru melakukan refleksi(nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Guru memberikan tugas rumah (PR) (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);

H.    Alat dan Bahan
1.     Alat : alat musik
2.     Sumber belajar :
    Buku paket
    Buku lain yang relevan (LKS)

I.    Penilaian
1.     Teknik/jenis : kuis dan tugas individu
2.     Bentuk instrumen: pertanyaan lisan dan tes tertulis
3.     Instrumen/soal:
1.     Jelaskan bahwa musik tradisional mempunyai nilai sebagai ungkapan ekspresi!
2.     Sebutkan contoh alat musik yang mempunyai nilai komunikatif!
3.     Sebutkan fungsi-fungsi musik tradisional!
4.     Sebutkan macam dan fungsi kendang dalam karawitan Jawa Tengah!

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir = perolehan skor/skor maksimum (70) x skor ideal (100)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )

Nama Sekolah    :    SMK NEGERI 1 BONE-BONE
Mata Pelajaran     :     Seni Budaya
Kelas/Semester    :     X / 1
Alokasi Waktu    :    4 jam pelajaran (2 x pertemuan)

A.    Standar Kompetensi
4.    Mengekspresikan diri melalui karya seni musik

B.    Kompetensi Dasar
4.1    Mengembangkan gagasan kreatif serta mengaransir lagu dengan beragam teknik, media, dan materi musik/lagu tradisional daerah setempat
4.2    Menampilkan lagu yang telah diaransir di kelas

C.    Indikator Pencapaian Kompetensi    :
Indikator Pencapaian Kompetensi    Nilai Budaya Dan
Karakter Bangsa
    Menyebutkan dan menjelaskan teknik mengaransir lagu
    Menyebutkan dan menjelaskan media musik/lagu tradisional
    Mengaransir lagu tradisional secara berkelompok    Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif :
    Kreatif (Mengemukakan gagasan baru)
    Mandiri (Mampu mencari sumber belajar sendiri)
    Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
    Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
    Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)

D.    Tujuan Pembelajaran
    Siswa dapat mengembangkan gagasan kreatif serta mengaransir lagu dengan beragam teknik, media, dan materi musik/lagu tradisional daerah setempat
    Siswa dapat menampilkan lagu yang telah diaransir di kelas

E.    Materi Pembelajaran
Pertemuan Ke-7 dan 8
1.     Gagasan kreatif mengaransir lagu meliputi ide artistik dan kemampuan teknis
2.     Teknik mengaransir lagu ada dua yaitu padat dan terpencar
3.     Dalam mengaransir diperlukan media, yakni bahan ataupun sarana

F.    Metode Pembelajaran
    Diskusi kelompok, tanya jawab, inkuiri, dan penugasan

Strategi Pembelajaran
Tatap Muka    Terstruktur    Mandiri
•    Mengembangkan gagasan kreatif serta mengaransir lagu dengan beragam teknik, media, dan materi musik/lagu tradisional daerah setempat
•    Menampilkan lagu yang telah diaransir di kelas    •    Gagasan kreatif serta mengaransir lagu dengan  beragam teknik, media, dan materi musik tradisional    •    Siswa dapat  Diskusi dan tanya jawab membahas gagasan kreatif mengaransir lagu
•    Siswa dapat  Tanya jawab tentang teknik mengaransir lagu
•    Siswa dapat  Diskusi Membahas media  engaransir lagu
•    Siswa dapat  Praktik menulis aransemen lagu

G.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Ke-7 dan 8
Pendahuluan
Apersepsi:
Siswa diajak mengingat pemahaman tentang apresiasi seni musik tradisional

Motivasi:
Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam memahami tentang teknik dan media mengaransir lagu tradisional

Kegiatan Inti
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi :
•    Dengan berdialog dan berdiskusi, siswa diajak memahami gagasan kreatif mengaransir lagu
•    Dengan praktik siswa menulis aransemen lagu
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi :
•    Siswa mengerjakan tugas latihan soal-soal tentang aransemen lagu
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
•    Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis,);

Penutup
•    Dengan bimbingan guru siswa diminta untuk membuat rangkuman materi (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Siswa dan guru melakukan refleksi(nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Guru memberikan tugas rumah (PR) (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);

H.    Alat dan Bahan
1.     Alat : alat tulis
2.     Sumber belajar :
    Buku paket
    Buku lain yang relevan (LKS)

I.    Penilaian
1.     Teknik/jenis : kuis dan tugas individu
2.     Bentuk instrumen: pertanyaan lisan dan tes tertulis
3.     Instrumen/soal:
1.     Sebutkan judul lagu yang dinyanyikan!
2.     Bagaimana antusias penonton, apakah tertarik atau tidak? Beri alasannya!
3.     Tulislah kelemahan maupun kelebihan pertunjukan musik tradisional tersebut!

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir = perolehan skor/skor maksimum (70) x skor ideal (100)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )

Nama Sekolah    :    SMK NEGERI 1 BONE-BONE
Mata Pelajaran     :     Seni Budaya
Kelas/Semester    :     X / 1
Alokasi Waktu    :    4 jam pelajaran (2 x pertemuan)

A.    Standar Kompetensi
5.    Mengapresiasi karya seni tari

B.    Kompetensi Dasar
5.1    Mengidentifikasi jenis, peran, dan perkembangan tari nusantara dalam konteks budaya masyarakat daerah setempat
5.2    Mengidentifikasi keunikan gerak, kostum, iringan tari nusantara dalam konteks budaya masyarakat daerah setempat dalam bentuk tari tunggal

C.    Indikator Pencapaian Kompetensi    :
Indikator Pencapaian Kompetensi    Nilai Budaya Dan
Karakter Bangsa
    Menyebutkan jenis-jenis tari daerah Yogyakarta
    Menyebutkan peran tari daerah Yogyakarta
    Menjelaskan dan menguraikan secara singkat perkembangan tari daerah Yogyakarta.
    Menyebutkan keunikan gerak tari klasik Yogyakarta
    Menyebutkan keunikan iringan tari Yogyakarta
    Menyebutkan contoh gending-gending Jawa untuk mengiringi tarian Yogyakarta    Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif :
    Kreatif (Mengemukakan gagasan baru)
    Mandiri (Mampu mencari sumber belajar sendiri)
    Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
    Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
    Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)

D.    Tujuan Pembelajaran
    Siswa dapat mengidentifikasi jenis, peran, dan perkembangan tari nusantara dalam konteks budaya masyarakat daerah setempat
    Siswa dapat mengidentifikasi keunikan gerak, kostum, iringan tari nusantara dalam konteks budaya masyarakat daerah setempat dalam bentuk tari tunggal

E.    Materi Pembelajaran
Pertemuan Ke-9 dan 10
1.     Seni tari gaya Yogyakarta disebut juga tari klasik gaya Yogyakarta atau seni tari klasik gaya Mataram
2.     Tari Yogyakarta mempunyai banyak keunikan. Keunikan itu dapat dilihat dari gerak, kostum, dan iringan musiknya

F.    Metode Pembelajaran
    Diskusi kelompok, tanya jawab, inkuiri, dan penugasan

Strategi Pembelajaran
Tatap Muka    Terstruktur    Mandiri
•    Mengidentifikasi jenis, peran, dan perkembangan tari nusantara dalam konteks budaya masyarakat daerah setempat
•    Mengidentifikasi keunikan gerak, kostum, iringan tari nusantara dalam konteks budaya masyarakat daerah setempat dalam bentuk tari tunggal    •    Jenis peran dan perkembangan tari daerah Yogyakarta
•    Keunikan gerak, kostum, iringan tari Yogyakarta bentuk tari tunggal    •    Siswa dapat  Diskusi dan tanya jawab membahas jenis peran dan perkembangan tari daerah Yogyakarta
•    Siswa dapat  Tanya jawab tentang keunikan gerak, kostum, iringan tari Yogyakarta bentuk tari tunggal

G.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Ke-9 dan 10
Pendahuluan
Apersepsi:
Siswa diajak mengingat pemahaman tentang cara mengaransir lagu

Motivasi:
Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam memahami tentang apresiasi karya seni tari daerah Yogyakarta

Kegiatan Inti
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi :
•    Dengan berdialog dan berdiskusi, siswa diajak memahami jenis peran dan perkembangan tari daerah Yogyakarta
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi :
•    Dengan berdiskusi dan tanya jawab siswa diajak memahami masalah yang berkaitan dengan keunikan gagasan, kostum iringan tari Yogyakarta
•    Siswa mengerjakan tugas latihan soal-soal tentang apresiasi karya seni tari daerah Yogyakarta
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
•    Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis,);

Penutup
•    Dengan bimbingan guru siswa diminta untuk membuat rangkuman materi (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Siswa dan guru melakukan refleksi(nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Guru memberikan tugas rumah (PR) (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);

H.    Alat dan Bahan
1.     Alat : -
2.     Sumber belajar :
    Buku paket
    Buku lain yang relevan (LKS)

I.    Penilaian
1.     Teknik/jenis : kuis dan tugas individu
2.     Bentuk instrumen: pertanyaan lisan dan tes tertulis
3.     Instrumen/soal:
1.     Sebutkan peran tari tradisional Yogyakarta!
2.     Bagaimana keunikan kostum tari tradisi Yogyakarta?
3.     Sebutkan jenis-jenis tari klasik gaya Yogyakarta!
4.     Mengapa tari rakyat saat itu sulit berkembang?

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir = perolehan skor/skor maksimum (70) x skor ideal (100)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )

Nama Sekolah    : SMK NEGERI 1 BONE-BONE
Mata Pelajaran     :     Seni Budaya
Kelas/Semester    :     X / 1
Alokasi Waktu    :    4 jam pelajaran (2 x pertemuan)

A.    Standar Kompetensi
6.    Mengekspresikan diri melalui karya seni tari

B.    Kompetensi Dasar
6.1    Mengidentifikasi gagasan untuk disusun ke dalam tari kreasi nusantara daerah setempat dalam bentuk tari tunggal
6.2    Menampilkan seni tari kreasi nusantara daerah setempat dalam bentuk tari tunggal

C.    Indikator Pencapaian Kompetensi    :
Indikator Pencapaian Kompetensi    Nilai Budaya Dan
Karakter Bangsa
    Menyebutkan urutan gagasan/ide dalam penyusunan tari kreasi daerah Yogyakarta
    Menyebutkan dan menjelaskan landasan sebagai sumber penyusunan tari
    Menyebutkan contoh materi gerak tari kreasi daerah Yogyakarta
    Menyebutkan keunikan tari kreasi daerah Yogyakarta
    Menampilkan contoh tari kreasi daerah Yogyakarta    Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif :
    Kreatif (Mengemukakan gagasan baru)
    Mandiri (Mampu mencari sumber belajar sendiri)
    Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
    Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
    Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)

D.    Tujuan Pembelajaran
    Siswa dapat Mengidentifikasi gagasan untuk disusun ke dalam tari kreasi Nusantara daerah setempat dalam bentuk tari tunggal
    Siswa dapat menampilkan seni tari kreasi Nusantara daerah setempat dalam bentuk tari tunggal

E.    Materi Pembelajaran
Pertemuan Ke-11 dan 12
1.     Gagasan merupakan ide dasar yang menjadi latar belakang terbentuknya tari kreasi.
2.     Dalam penyusunan gagasan tidak menghilangkan atau meninggalkan tarian asli
3.     Salah satu contoh gagasan tari kreasi daerah Yogyakarta adalah tari angsa. Angsa merupakan binatang yang gemar hidup di air, dengan kaki berselaput. Angsa dan air merupakan perpaduan yang harmonis, indah dan nyaman dilihat

F.    Metode Pembelajaran
    Diskusi kelompok, tanya jawab, inkuiri, dan penugasan

Strategi Pembelajaran
Tatap Muka    Terstruktur    Mandiri
•    Mengidentifikasi gagasan untuk disusun ke dalam tari kreasi nusantara daerah setempat dalam bentuk tari tunggal
•    Menampilkan seni tari kreasi nusantara daerah setempat dalam bentuk tari tunggal    •    Gagasan tari kreasi daerah Yogyakarta
•    Materi seni tari kreasi Nusantara daerah    •    Siswa dapat Diskusi dan tanya jawab membahas gagasan tari kreasi daerah Yogyakarta
•    Tanya jawab tentang materi seni tari kreasi Nusantara daerah

G.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Ke-11 dan 12
Pendahuluan
Apersepsi:
Siswa diajak mengingat pemahaman tentang apresiasi karya seni tari daerah Yogyakarta

Motivasi:
Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam memahami tentang gagasan tari kreasi daerah Yogyakarta

Kegiatan Inti
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi :
•    Dengan berdialog dan berdiskusi, siswa diajak memahami gagasan tari kreasi daerah Yogyakarta
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi :
•    Dengan berdiskusi dan tanya jawab siswa diajak memahami masalah yang berkaitan dengan materi seni tari kreasi Nusantara daerah
•    Dengan prakstik siswa memperagakan tari prawiraguna

Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
•    Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis,);

Penutup
•    Dengan bimbingan guru siswa diminta untuk membuat rangkuman materi (nilai yang ditanamkan: ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Siswa dan guru melakukan refleksi(nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Guru memberikan tugas rumah (PR) (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);

H.    Alat dan Bahan
1.     Alat : perlengkapan menari
2.     Sumber belajar :
    Buku paket
    Buku lain yang relevan (LKS)

I.    Penilaian
1.     Teknik/jenis : kuis dan tugas individu
2.     Bentuk instrumen: pertanyaan lisan dan tes tertulis
3.     Instrumen/soal:
1.     Sebutkan urutan penyusunan ide/gagasan tari!
2.     Peragakan tari angsa bersama teman-teman dengan kreasi Anda sendiri!
3.     Sebutkan standardisasi gerak tari klasik Yogyakarta!

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir = perolehan skor/skor maksimum (70) x skor ideal (100)

 
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )

Nama Sekolah    :    SMK NEGERI 1 BONE-BONE
Mata Pelajaran     :     Seni Budaya
Kelas/Semester    :     X / 1
Alokasi Waktu    :    6 jam pelajaran (3 x pertemuan)

A.    Standar Kompetensi
7.    Mengapresiasi karya seni teater
B.    Kompetensi Dasar
7.1    Mendeskripsikan perkembangan teater tradisional daerah setempat dalam konteks budaya masyarakat
7.2    Menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsur estetis pertunjukan teater tradisional daerah setempat
7.3    Menunjukkan sikap apresiatif terhadap pesan moral (kearifan lokal) pertunjukan teater tradisional daerah setempat

C.    Indikator Pencapaian Kompetensi    :
Indikator Pencapaian Kompetensi    Nilai Budaya Dan
Karakter Bangsa
    Menyebutkan dan menjelaskan perkembangan teater tradi-sional daerah Jawa Barat
    Menyebutkan macam-macam teater daerah Jawa Barat
    Menyebutkan macam-macam teater daerah Jawa Barat
    Menyebutkan dan menjelaskan tentang sikap apresiasif terhadap unsur estetis
    Menjelaskan tentang pesan moral
    Menyebutkan contoh teater yang berkaitan dengan kearifan lokal    Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif :
    Kreatif (Mengemukakan gagasan baru)
    Mandiri (Mampu mencari sumber belajar sendiri)
    Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
    Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
    Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)

D.    Tujuan Pembelajaran
    Siswa dapat mendeskripsikan perkembangan teater tradisional daerah setempat dalam konteks budaya masyarakat
    Siswa dapat menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsur estetis pertunjukan teater tradisional daerah setempat
    Siswa dapat menunjukkan sikap apresiatif terhadap pesan moral (kearifan lokal) pertunjukan teater tradisional daerah setempat

E.    Materi Pembelajaran
Pertemuan Ke-13 s.d. 15
1.     Teater rakyat yaitu teater yang sudah ada di masyarakat. Teater ini berkembang bersama dengan keadaan dan situasi, kehidupan masyarakat
2.     Macam-macam teater Jawa Barat rakyat antara lain: bonjet, ogel, longser, topeng cirebon, wayang golek, calung, reog
3.     Teater baru terbatas misalnya di universitas (ISI), sanggar atau perkumpulan seni
4.     Sikap apresiatif merupakan sikap untuk menghargai, menikmati, memahami dan menghayati karya seni teater. Yang kita hargai dalam hal ini adalah unsur estetis atau keindahan
5.     Setiap pertunjukan seni teater tradisi memiliki pesan moral sendiri-sendiri terhadap penonton. Pesan moral merupakan keindahan yang berkaitan dengan ketertiban batin

F.    Metode Pembelajaran
    Diskusi kelompok, tanya jawab, inkuiri, dan penugasan

Strategi Pembelajaran
Tatap Muka    Terstruktur    Mandiri
•    Mendeskripsikan perkembangan teater tradisional daerah setempat dalam konteks budaya masyarakat
•    Menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsur estetis pertunjukan teater tradisional daerah setempat
•    Menunjukkan sikap apresiatif terhadap pesan moral (kearifan lokal) pertunjukan teater tradisional daerah setempat        Jelaskan Perkembangan teater tradisional daerah Jawa  Barat
    Jelaskan Sikap apresiatif terhadap unsur estetis
•    Jelaskan Sikap apresiatif terhadap pesan moral (kearifan lokal)    •    Siswa dapat Diskusi dan tanya jawab membahas gagasan tari kreasi daerah Yogyakarta
•    Siswa dapat Tanya jawab tentang materi seni tari kreasi Nusantara daerah

G.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Ke-13 s.d. 15
Pendahuluan
Apersepsi:
Siswa diajak mengingat pemahaman tentang gagasan tari kreasi daerah Yogyakarta

Motivasi:
Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam memahami tentang karya teater tradisional Jawa Barat

Kegiatan Inti
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi :
•    Dengan berdialog dan berdiskusi, siswa diajak memahami perkembangan teater tradisional Jawa Barat
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi :
•    Dengan berdiskusi dan tanya jawab siswa diajak memahami masalah yang berkaitan dengan apresiasi terhadap unsur estetis dan pesan moral seni teater
•    Siswa mengerjakan tugas latihan soal-soal tentang teater tradisional daerah Jawa Barat
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
•    Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis,);

Penutup
•    Dengan bimbingan guru siswa diminta untuk membuat rangkuman materi (nilai yang ditanamkan: ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Siswa dan guru melakukan refleksi(nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Guru memberikan tugas rumah (PR) (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);

H.    Alat dan Bahan
1.     Alat : -
2.     Sumber belajar :
    Buku paket
    Buku lain yang relevan (LKS)

I.    Penilaian
1.     Teknik/jenis : kuis dan tugas individu
2.     Bentuk instrumen: pertanyaan lisan dan tes tertulis
3.     Instrumen/soal:
1.     Sebutkan fungsi teater rakyat Jawa Barat!
2.     Dalam teater tradisional terdapat unsur keindahan. Sebutkan unsur keindahan tersebut!
3.     Apa yang dimaksud ogel?
4.     Apa yang dimaksud bonjet?

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir = perolehan skor/skor maksimum (70) x skor ideal (100)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P )

Nama Sekolah    :    SMK NEGERI 1 BONE-BONE
Mata Pelajaran     :     Seni Budaya
Kelas/Semester    :     X / 1
Alokasi Waktu    :    6 jam pelajaran (3 x pertemuan)

A.    Standar Kompetensi
8.    Mengekspresikan diri melalui seni teater

B.    Kompetensi Dasar
8.1    Mengeksplorasi teknik olah tubuh, pikiran, dan suara
8.2    Merancang pergelaran teater tradisional daerah setempat
8.3    Menerapkan prinsip kerja sama dalam berteater

C.    Indikator Pencapaian Kompetensi    :
Indikator Pencapaian Kompetensi    Nilai Budaya Dan
Karakter Bangsa
    Menjelaskan tentang eks-plorasi teknik olah tubuh, pikiran, dan suara
    Memperagakan gerakan olah tubuh, pikiran dan suara
    Menyebutkan tahap-tahapan olah pikiran
    Menyebutkan macam-macam gerakan yang dilatihkan dalam teknik olah tubuh
    Merancang pergelaran teater tradisional
    Menyebutkan persiapan-persipan dalam pertunjukan
    Menyebutkan bagian-bagian teater yang dapat bekerja sama    Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif :
    Kreatif (Mengemukakan gagasan baru)
    Mandiri (Mampu mencari sumber belajar sendiri)
    Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).
    Percaya diri (keteguhan hati, optimis).
    Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)

D.    Tujuan Pembelajaran
    Siswa dapat mengeksplorasi teknik olah tubuh, pikiran, dan suara
    Siswa dapat merancang pergelaran teater tradisional daerah setempat
    Siswa dapat menerapkan prinsip kerja sama dalam berteater

E.    Materi Pembelajaran
Pertemuan Ke-16 s.d. 18
1.     Teknik olah tubuh adalah latihan ekspresi secara fisik sehingga gerakan fleksibel, disiplin dan ekspresif artinya gerak itu luwes sesuai yang diperankan
2.     Teknik olah pikiran Yaitu cara mengkonsentrasikan pikiran, perasaan, kejiwaan, emosi sehingga dapat menghayati, menikmati, menjiwai peran yang dibawakannya
3.     Teknik olah suara Adalah cara mengucapkan suara secara nyaring dan jelas atau disebut latihan penjiwaan suara. Yang harus mendapat perhatian dalam teknik ini adalah suara jelas, nyaring, mudah dipahami, komunikatif, diucapkan sesuai daerah artikulasinya
4.     Dalam teater tradisional biasanya menggunakan penataan panggung konvensional, yaitu pentas panggung menggunakan tirai depan (proscenium), bentuk statis, ada korden, pembatas, hiasan, lukisan sesuai latar kejadian.
5.     Dalam bermain teater perlu adanya kerja sama. Dengan kerja sama yang baik  permainan/hasil pertunjukan akan berbobot

F.    Metode Pembelajaran
    Diskusi kelompok, tanya jawab, inkuiri, dan penugasan

Strategi Pembelajaran
Tatap Muka    Terstruktur    Mandiri
•    Mengeksplorasi teknik olah tubuh, pikiran, dan suara
•    Merancang pergelaran teater tradisional daerah setempat
•    Menerapkan prinsip kerja sama dalam berteater    •    Jelaskan Eksplorasi teknik olah tubuh,  pikiran, dan suara
•    Merancang pergelaran teater tradisional daerah setempat
•    Menerapkan prinsip kerja sama dalam berteater    •    Siswa dapat Diskusi dan tanya jawab membahas eksplorasi teknik olah tubuh, pikiran, dan suara
•    Siswa dapat Tanya jawab tentang cara merancang pergelaran teater tradisional daerah
•    Siswa dapat Mempraktikkan prinsip kerja sama dalam berteater

G.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Ke-16 s.d. 18
Pendahuluan
Apersepsi:
Siswa diajak mengingat pemahaman tentang apresiasi karya teater tradisional Jawa Barat

Motivasi:
Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam memahami tentang ekspresi seni teater daerah

Kegiatan Inti
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi :
•    Dengan berdialog dan berdiskusi, siswa diajak memahami tentang eksplorasi teknik olah tubuh, pikiran dan suara
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi :
•    Dengan berdiskusi dan tanya jawab siswa diajak memahami masalah yang berkaitan dengan cara merancang pergelaran teater tradisional daerah
•    Siswa mengerjakan tugas latihan soal-soal tentang ekspresi seni teater daerah
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
•    Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis,);

Penutup
•    Dengan bimbingan guru siswa diminta untuk membuat rangkuman materi (nilai yang ditanamkan: ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Siswa dan guru melakukan refleksi(nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
•    Guru memberikan tugas rumah (PR) (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);

H.    Alat dan Bahan
1.     Alat : -
2.     Sumber belajar :
    Buku paket
    Buku lain yang relevan (LKS)

I.    Penilaian
1.     Teknik/jenis : kuis dan tugas individu
2.     Bentuk instrumen: pertanyaan lisan dan tes tertulis
3.     Instrumen/soal:
1.     Sebutkan tahapan olah pikiran!
2.     Jelaskan yang disebut merancang pergelaran!
3.     Sebutkan macam-macam teater rakyat Jabar!
4.     Bagaimana menurut Anda penataan panggung yang baik?

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir = perolehan skor/skor maksimum (70) x skor ideal (100)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

media kreatif bone-bone

melayani … digital print, sablon, stempel, foto ujian dan dokumentasi acara,

percetakan bone-bone

percetakan bone-bone

Posted in Uncategorized | Leave a comment

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( R P P ) seni rupa kelas 1

Mata Pelajaran                : Seni Budaya

Kelas/Semester         : X / 1

Nama Guru                      : ELIVAS BUARANSA, S.Pd

NIP/NIK                           : 19810329 200901 1 004

Sekolah                           : SMK NEGERI 1 BONE-BONE

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

( R P P )

 

Nama Sekolah         :  SMK NEGERI 1 BONE-BONE

Mata Pelajaran        : Seni Budaya

Kelas/Semester      : X / 1

Alokasi Waktu         :  4 jam pelajaran (2 x pertemuan)

 

A.  Standar Kompetensi

1.      Mengapresiasi karya seni rupa

 

B.  Kompetensi Dasar

1.1    Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat

1.2    Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat

 

C.  Indikator Pencapaian Kompetensi  :

Indikator Pencapaian Kompetensi

Nilai Budaya Dan

Karakter Bangsa

–  Menjelaskan pengertian seni rupa terapan

–  Menyebutkan dan menjelaskan keunikan karya seni rupa terapan (ukiran) daerah Luwu Utara

–  Menyebutkan dan menjelaskan keunikan teknik seni rupa ukiran daerah Luwu Utara

–  Menyebutkan model/corak ukiran Luwu Utara

–  Menggambar motif-motif ukiran Luwu Utara Menyebutkan sikap apresiatif masyarakat Luwu Utara terhadap karya seni rupa terapan

Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis

 

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif :

–  Kreatif (Mengemukakan gagasan baru)

–  Mandiri (Mampu mencari sumber belajar sendiri)

–  Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).

–  Percaya diri (keteguhan hati, optimis).

–  Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)

 

 

D.  Tujuan Pembelajaran

  • Siswa dapat mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat
  • Siswa dapat menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat

 

 

 

 

E.  Materi Pembelajaran

Pertemuan Ke-1 dan 2

1.   Karya seni rupa terapan adalah karya seni yang dirancang untuk tujuan fungsional/kegunaan yakni memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis

2.   Sikap apresiatif merupakan sikap menghargai, mengagumi, menilai, menikmati dan menghayati hasil karya dalam hal ini seni ukir Luwu Utara.

3.   Seni ukir Luwu Utara pada umumnya bermotif Simetris, kaku tetapi tampak gagah (megah)

 

F.   Metode Pembelajaran

  • Diskusi kelompok, tanya jawab, inkuiri, dan penugasan

 

Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat
  • Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat
  • § Keunikan gagasan dan teknik seni rupa terapan daerah
    • Sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik seni rupa terapan daerah Luwu Utara
    • § Siswa dapat  Diskusi dan tanya jawab membahas keunikan gagasan dan teknik seni rupa terapan daerah Luwu Utara
    • § Siswa dapat  Praktik menggambar motif simetris.
      • Siswa dapat  Diskusi tentang sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik seni rupa terapan daerah Luwu Utara

 

 

 

G.  Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Ke-1 dan 2

Pendahuluan

Apersepsi:

Siswa diajak mengingat pemahaman tentang karya seni rupa

Motivasi:

Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam mengapresiasi karya seni rupa terapan

Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi :

  • Dengan berdialog dan berdiskusi, siswa diajak memahami keunikan gagasan dan teknik seni rupa terapan daerah

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi :

  • Dengan berdiskusi dan tanya jawab siswa diajak mengapresiasi terhadap keunikan gagasan teknik seni rupa terapan daerah Luwu Utara.
  •             Siswa mengerjakan tugas latihan soal-soal tentang apresiasi karya seni rupa terapan

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

  • Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
  • Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis,);

 

Penutup

  • Dengan bimbingan guru siswa diminta untuk membuat rangkuman materi
  • Siswa dan guru melakukan refleksi
  • Guru memberikan tugas rumah (PR)

 

H.  Alat dan Bahan

1.   Alat : alat gambar

2.   Sumber belajar :

  • Buku paket
  • Buku lain yang relevan (LKS)

 I.    Penilaian

1.   Teknik/jenis : kuis dan tugas individu

2.   Bentuk instrumen: pertanyaan lisan dan tes tertulis

3.   Instrumen/soal:

1.   Jelaskan yang disebut karya seni rupa terapan!

2.   Sebutkan keunikan gagasan ukiran daerah Luwu Utara!

3.   Sebutkan minimal tiga keunikan teknik seni rupa terapan daerah Luwu Utara!

4.   Sebutkan motif-motif ukiran Luwu Utara!

5.   Bagaimana saran Anda agar ukiran Luwu Utara lebih maju dan berkembang!

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut:

Nilai akhir = perolehan skor/skor maksimum (70) x skor ideal (100)

Bone-Bone, ….,……,…………

Guru Bidang Studi

 

 

 

ELIVAS BUARANSA, S.Pd

NIP 19810329 200901 1 004

Bone-Bone, ….,……,…………

Guru Bidang Studi

 

 

 

 

ELIVAS BUARANSA, S.Pd

NIP 19810329 200901 1 004

Mengetahui :

Kepala SMK Negeri 1 Bone-Bone,

 

         Ir. SYAFI’I, M.Si

NIP. 196303051993031008

 


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

( R P P )

 

Nama Sekolah         :  SMK NEGERI 1 BONE-BONE

Mata Pelajaran        : Seni Budaya

Kelas/Semester      : X / 1

Alokasi Waktu         :  4 jam pelajaran (2 x pertemuan)

 

A.  Standar Kompetensi

2.      Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

 

B.  Kompetensi Dasar

2.1    Merancang karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat

2.2    Membuat karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat

 

C.  Indikator Pencapaian Kompetensi  :

Indikator Pencapaian Kompetensi

Nilai Budaya Dan

Karakter Bangsa

–  Menjelaskan tentang merancang karya seni rupa terapan

–  Menyebutkan persiapan-persiapan merancang karya seni rupa dengan teknik dan corak daerah Luwu Utara (motif Rongkong)

–  Mempraktikkan teknik-teknik pembuatan ukiran

–  Menyebutkan dan menggambar macam-macam pola ukiran

–  Menyebutkan alat-alat yang digunakan dalam pembuatan ukiran

–  Membuat karya seni rupa terapan secara sederhana, dengan berkelompok.

Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis

 

Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif :

–  Kreatif (Mengemukakan gagasan baru)

–  Mandiri (Mampu mencari sumber belajar sendiri)

–  Berorientasi pada tugas (bermotivasi, tekun/tabah, bertekad, enerjik).

–  Percaya diri (keteguhan hati, optimis).

–  Orientasi ke masa depan (punya perspektif untuk masa depan)

D.  Tujuan Pembelajaran

  • Siswa dapat merancang karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat
  • Siswa dapat membuat karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat

 

 

 

 

E.  Materi Pembelajaran

Pertemuan Ke-3 dan 4

1.   Dalam merancang seni ukir perlu persiapan-persiapan antara lain persiapan konstruksi barang, persiapan pola gambar hiasan dan ukiran

2.   Dalam membuat karya seni ukir diperlukan alat-alat pokok, alat dan perkakas perlengkapan, dan urutan pelaksanaan mengukir

 

F.   Metode Pembelajaran

  • Diskusi kelompok, tanya jawab, inkuiri, dan penugasan

 

Strategi Pembelajaran

Tatap Muka

Terstruktur

Mandiri

  • Merancang karya seni rupa terapan dengan  memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat
  • Membuat karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat
  • Merancang karya seni rupa terapan daerah Luwu Utara (motif Rongkong)
  • Membuat karya seni rupa terapan
  • Siswa dapat  Diskusi dan tanya jawab tentang cara merancang karya seni rupa terapan daerah setempat.
  • Siswa dapat  Praktik menggambar pola ukiran
  • Siswa dapat  Tanya jawab tentang cara membuat karya seni rupa terapan

 

G.  Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Ke-3 dan 4

Pendahuluan

Apersepsi:

Siswa diajak mengingat pemahaman tentang apresiasi karya seni rupa terapan daerah Luwu Utara (motif Rongkong)

 

 

Motivasi:

Memotivasi akan pentingnya menguasai materi ini dengan baik, untuk membantu siswa dalam merancang dan

membuat karya seni rupa daerah Luwu Utara

Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi :

  • Dengan berdialog dan berdiskusi, siswa diajak memahami persiapan dalam membuat rancangan

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi :

  • Dengan berdiskusi dan tanya jawab siswa diajak memahami masalah yang berkaitan dengan cara membuat karya seni rupa terapan
  • Siswa mengerjakan tugas latihan soal-soal tentang cara merancang dan membuat karya seni ukir

 

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

  • Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
  • Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui. (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis,);

 

Penutup

  • Dengan bimbingan guru siswa diminta untuk membuat rangkuman materi (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
  • Siswa dan guru melakukan refleksi(nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);
  • Guru memberikan tugas rumah (PR) (nilai yang ditanamkan: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis.);

 

H.  Alat dan Bahan

1.   Alat : peralatan mengukir

2.   Sumber belajar :

  • Buku paket
  • Buku lain yang relevan (LKS)

I.    Penilaian

1.   Teknik/jenis : kuis dan tugas individu

2.   Bentuk instrumen: pertanyaan lisan dan tes tertulis

3.   Instrumen/soal:

1.   Sebutkan tiga teknik membuat pola ukiran!

2.   Jelaskan yang disebut pola ukiran Motif Rongkong!

3.   Sebutkan alat-alat pokok mengukir kayu!

4.   Sebutkan macam-macam pahat, gambarkan salah satunya!

5.   Sebutkan macam-macam cara pemolesan!

 

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 – 100 adalah sebagai berikut:

Nilai akhir = perolehan skor/skor maksimum (70) x skor ideal (100)

 

 

 

Mengetahui :

Kepala SMK Negeri 1 Bone-Bone,

 

         Ir. SYAFI’I, M.Si

NIP. 196303051993031008

 

Bone-Bone, ….,……,…………

Guru Bidang Studi

 

 

 

ELIVAS BUARANSA, S.Pd

NIP 19810329 200901 1 004

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SENI BUDAYA KELAS 3 SMK NEGERI 1 BONE-BONE

CONTOH SOAL UJIAN SEKOLAH, MATA PELAJANA SENI BUDAYA SMK NEGERI 1 BONE-BONE 2013.

s

KUMPULAN SOAL SENI BUDAYA SMK
1.    Perpaduan dua warna primer disebut…
2.    Warna orange adalah hasil percampuran dari warna….
3.    Jika warna kuning dicampurkan dengan warna biru maka akan menghasilkan warna…
4.    Warna primer/pokok adalah…..
5.    Tuliskan beberapa hasil karya seni rupa !!!
6.    Unsur dasar seni rupa yang terkecil adalah….
7.    Yang merupakan karya seni rupa 3 dimensi adalah…
8.    Batas limit suatu benda, ruang dan warna disebut . . .
9.    Membandingkan ukuran keserasian antara suatu bagian  dengan bagian yang lainnya ___disebut…
10.    Salah satu sifat dasar seni adalah…..
11.    Tuliskan beberapa fungsi seni !
12.    Tuliskan beberapa tokoh teater dalam negeri untuk teater panggung …!
13.    Unsur pendukung dalam sebuah penampilan drama yang paling penting adalah….
14.    Tuliskan beberapa ciri-ciri bentuk drama..!
15.    PERSAGI adalah singgkatan dari…………
16.    Fungsi seni dapat juga diistilahkan dengan………..
17.    Suatu pertunjukan seni dapat disebut sebagai komunikasi/kritik sosial melalui media ___  seni tertentu. Penjelasan tersebut temasuk fungsi seni sebagai…..
18.    Jenis nilai yang melekat pada seni mencakup nilai keindahan, pengetahuan dan nilai ____kehidupan. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh…..
19.    Kebudayaan dibagi atas 3 sistem (sistem budaya, sosial dan teknologi) hal ini ____dikemukakan oleh….
20.    Karya seni yang diciptakan oleh seorang seniman merupakan karya yang berdiri ____personal, subyektif dan individual. berikut adalah prinsip dasar seni yang bersifat…
21.    Seni merupakan kegiatan sadar manusia dengan perantaraan (medium) tertentu ____untuk menyampaikan perasaan kepada orang lain. Defenisi seni tersebut ____dikemukakan oleh..
22.    Seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya ____mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan oleh gagasan tertentu. Pernyataan ____tersebut dikemukakan oleh ………
23.    Nilai raba pada suatu permukaan disebut…
24.    Tuliskan beberapa aliran atau gaya dalam seni rupa yang dimulai dari periode setelah ____klasikisme di mancanegara…!
25.    Aliran yang mengangkap bagian dari realime yang memilih objek yang indah dan ____dibuat, secara visual persis seperti objek aslinya (fotografis) adalah aliran seni rupa . .
26.    Kartun sindiran yang terfokus pada karakter obyek, walaupun sudah dideformasi, ____namun kita tetap mengenal sang tokoh karena ciri khasnya, adalah bentuk seni lukis .
27.    Jenis instrumen musik yang sumber bunyinya berasal dari getaran tubuh. Inti ____instrumen itu sendiri adalah  . . .
28.    Tuliskan beberapa tahapan plot adalah dalam pertunjukan teater
29.    Unsur-unsur dasar seni teater adalah………
30.    Jenis instrumen musik yang sumber bunyinya berasal dari dawai atau senar adalah ____jenis instrumen musik . . .
31.    Alat instrumen musik rebana, tom-tom adalah jenis instrumen musik  . . .
32.    Salah satu artis mancanegara yang sering memperagakan tarian Break Dance ____disetiap aksi panggungnya adalah….
33.    Gerakan tari yang mempunyai ciri khas dengan diawali saling mengejek melalui ____gerakan-gerakan unik dengan iringan musik tape compo yang dipanggul sana sini, ____adalah ciri-ciri gerakan tarian. .
34.    Tuliskan tahapan persiapan  pementasan agar tubuh lebih lentur sebelum melakun ____gerakan tari……
35.    Periode kekosongan aktivitas, hingga muncul aktivitas melukis yang menyajikan ____pulasan kuas yang halus dengan obyek pemandangan tanah air yang menawan ____dikenal dengan periode…..
36.    Periode seni rupa modern di Indonesia dimana masa itu berlangsungnya pendudukan ____Jepang yang mendirikan badan kesenian Keimin Bunka Shidoso dikenal dengan ____periode
37.    Tuliskan nama tokoh-tokoh PERSAGI… .
38.    Tuliskan  klasifikasi karya musik untuk penguat IQ……….
39.    Lagu kebangsaan Indonesia Raya, pada umumnya menggunakan tangga nada dan ____akor…
40.     “Dan kau lilin-lilin kecil
_____Sanggupkah kau berpijar
_____Sanggupkah kau menyengat
_____Seisi dunia”
_____Sepenggal lagu diatas adalah lagu yang dinyanyikan oleh alm. Chrisye dengan judul..
41.    Tuliskan beberapa bentuk atau macam seni lukis……….
42.    Tuliskan  beberapa teknik menggambar yang dikenal dalam seni rupa………
43.    Tuliskan beberapa ciri-ciri melodi/lagu bagus …..…
44.    Lagu “Keong racun” adalah jenis musik…..
45.    Tuliskan klasifikasi karya musik yang dapat meningkatkan daya ingat…….
46.    Tuliskan karakteristik musik yang mampu membangkitkan pola-pola otak, kecuali…
47.    Musik tarian orkes band dengan irama, samba, rumba, cha-cha, dan pasadoble adalah ____ciri khas musik tarian negara…
48.    Negara yang memiliki ciri-ciri tarian dengan gerakan sederhana untuk kepala, tangan ____dan kaki, namun banyak menggerakkan pinggul, erotis dan berulang-ulang, kostum ____mewah, dan musik melodi sendu yaitu…

49. Tuliskan beberapa kesenian yang berkembang di luwu utara…!
50.    Sifat tarian yang mengandung makna spiritual dan perenungan mendalam adalah ____sifat tarian dari negara…

KEPADA SELURUH SISWA KELAS 3,,AGAR LATIHAN MENJAWAB SOAL2 DIATAS.

JIKA ADA YANG INGIN DITANYAKAN….>>> TINGGALKAN TULISAN DI KOLOM KOMENTAR DIBAWAH INI…!!!!!!

Posted in Uncategorized | Leave a comment