MATERI SENI BUDAYA JILID 2

SENI RUPA

5.1. Pengantar Seni Rupa

Kemampuan bidang estetika dan budaya seakan dikesampingkan

pada kondisi sistem pendidikan nasional saat ini, karena lebih

mengutamakan pengembangan kemampuan dibidang ilmu pengetahuan,

teknologi, dan matematika. Hal ini kurang mendukung upaya pembentukan

kwalitas kepribadian manusia Indonesia yang diharapkan. Peran pendidikan

seni merupakan salah satu kemampuan dibidang estetika yang dapat

mewujudkan manusia seutuhnya.

Seni merupakan salah satu pemanfaatan budi dan akal untuk

menghasilkan karya yang dapat menyentuh jiwa spiritual manusia. Karya seni

merupakan suatu wujud ekspresi yang bernilai dan dapat dirasakan secara

visual maupun audio. Seni terdiri dari musik, tari, rupa, dan drama/sastra.

Seni rupa merupakan ekspresi yang diungkapkan secara visual dan terwujud

nyata (rupa).

Seni rupa modern terbagi atas dua kelompok besar yaitu seni murni

dan seni terapan. Seni terapan terdiri dari desain dan kriya. Desain dan Kriya

bertujuan untuk mengisi kebutuhan masyarakat akan bidang estetis terapan.

Perkembangan keilmuan seni rupa dalam beberapa tahun terakhir ini

mengalami perluasan ke arah wahana besar yang kita kenal sebagai budaya

rupa (visual culture). Lingkup sesungguhnya tidak hanya cabang-cabang seni

rupa yang kita kenal saja, seperti lukis, patung, keramik, grafis dan kriya, tapi

juga meliputi kegiatan luas dunia desain dan kriya (kerajinan), multimedia,

fotografi. Bahkan muncul pula teori dan ilmu sejarah seni rupa, semantika

produk, semiotika visual, kritik seni, metodelogi desain, manajemen desain,

sosiologi desain, dan seterusnya.

5.1.1. Seni Murni

Seni rupa murni lebih mengkhususkan diri pada proses penciptaan

karya seninya dilandasi oleh tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan

kepuasan batin senimannya.Seni murni diciptakan berdasarkan kreativitas

dan ekspresi yang sangat pribadi (lukis, patung, grafis, keramik ). Namun

dalam hal tertentu, karya seni rupa murni itu dapat pula diperjualbelikan atau

memiliki fungsi sebagai benda pajangan dalam sebuah ruang.

a. Seni lukis salah satu jenis seni murni berwujud dua dimensi pada

umumnya dibuat di atas kain kanvas berpigura dengan bahan cat minyak,

cat akrilik, atau bahan lainnya.

b. Seni patung salah satu jenis seni murni berwujud tiga dimensi. Patung

dapat dibuat dari bahan batu alam, atau bahan-bahan industri seperti

logam,serat gelas, dan lain-lain.

c. Seni Grafis merupakan seni murni dua dimensi dikerjakan dengan teknik

cetak baik yang bersifat konvensional maupun melalui penggunaan

teknologi canggih. Teknik cetak konvensional antara lain : 1) Cetak Tinggi

( Relief Print ) : wood cut print, wood engraving print, lino cut print, kolase

print ; 2) Cetak Dalam ( Intaglio ) : dry point, etsa, mizotint,sugartint ; (3)

sablon ( silk screen ). Teknik Cetak dengan teknologi modern, misalnya

offset dan digital print.

d. Seni keramik termasuk seni murni tiga dimensi sebagai karya bebas yang

tidak terikat pada bentuk fungsional.

 

5.1.2. Desain

Di zaman modern segala benda dan bangunan yang dibutuhkan

manusia, umumnya merupakan karya desain, baik dengan pendekatan

estetis, maupun pendekatan fungsional. Istilah desain mengalami perluasan

makna, yaitu sebagai kegiatan manusia yang berupaya untuk memecahkan

masalah kebutuhan fisik.

Berbeda dengan karya seni murni, desain merupakan suatu aktivitas

yang bertitik tolak dari unsur-unsur obyektif dalam mengekspresikan gagasan

visualnya. Unsur-unsur obyektif suatu karya desain adalah adanya unsure

rekayasa (teknologi), estetika (gaya visual), prinsip sains (fisika), pasar

(kebutuhan masyarakat), produksi (industri), bahan (sumber daya alam),

budaya (Sikap, mentalitas, aturan, gaya hidup), dan lingkungan (social).

Unsur objektif yang menjadi pilar sebuah karya desain dapat berubah

tergantung jenis desain dan pendekatan.

Cabang-cabang desain yang kita kenal antara lain ada di bawah ini :

a. Desain Produk (Industrial Design)

Desain produk adalah cabang seni rupa yang berupaya untuk

memecahkan persoalan kebutuhan masyarakat akan peralatan dan benda

sehari-hari untuk menunjang kegiatannya, seperti : mebel, alat rumah tangga,

alat transportasi, alat tulis, alat makan, alat kedokteran, perhiasan, pakaian,

sepatu, pengatur waktu, alat kebersihan, cindera mata, kerajinan, mainan

anak, bahkan perkakas pertukangan.

b. Desain Grafis/ Desain Komunikasi Visual

Desain grafis adalah bagian dari seni rupa yang berupaya untuk

memecahkankebutuhan masyarakat akan komunikasi rupa yang dicetak,

seperti poster, brosur, undangan, majalah, surat kabar, logo perusahan,

kemasan, buku, dan bhkan juga cerita bergambar (komik), ilustrasi, dan

krikatur,. Desain grafis kemudian mengalami perkembangan sejalan dengan

kebutuhan masyarakat. Kini cabang seni rupa ini dikenal dengan nama

desain komunikasi visual dengan penambahan cakupannya meliputi

multimedia dan fotografi.

d. Desain interior

Desain Interior adalah suatu cabang seni rupa yang berupaya untuk

memecahkan kebutuhan akan ruang yang nyaman dan indah dalam sebuah

hunian, seperti ruang hotel, rumah tinggal, bank, museum, restoran, kantor,

pusat hiburan, rumah sakit, sekolah, bahkan ruang dapur dan kafe. Banyak

yang berpandangan bahwa desain interior merupakan bagian dari arsitektur

dan menjadi kesatuan yang utuh dengan desain tata ruang secara

keseluruhan. Namun, pandangan ini berubah ketika profesi desain interior

berkembang menjadi ilmu untuk merancang ruang dalam dengan

pendekatan-pendekatan keprofesionalan.

Dunia desain berkembang sejalan dengan kemajuan kebudayaan

manusia. Masyarakat juga mengenal desain multimedia. Cabang desain ini

berkembang sejalan dengan tumbuhnya teknologi komputer dan dunia

pertelevisian.

5.1.3. Kriya

Perkembangan dalam dunia seni rupa, adalah munculnya kriya

sebagai bagian tersendiri yang terpisah dari seni rupa murni. Jika

sebelumnya kita mengenal istilah seni kriya sebagai bagian dari seni murn,

kita mengenal istilah kriya atau ada pula yang menyebutnya kriya seni. Kriya

merupakan pengindonesiaan dari istilah Inggris Craft, yaitu kemahiran

membuat produk yang bernilai artistik dengan keterampilan tangan, produk

yang dihasilkan umumnya eksklusif dan dibuat tunggal, baik atas pesanan

ataupun kegiatan kreatif individual. Ciri karya kriya adalah produk yang

memiliki nilai keadiluhungan baik dalam segi estetik maupun guna.

Sedangkan karya kriya yang kemudian dibuat misal umumnya dikenal

sebagai barang kerajinan

5.2. Dasar-dasar Seni Rupa

Dalam proses berkarya, diperlukan penyusunan unsur-unsur atau

elemen suatu karya yang sesuai dengan prinsip-prinsip komposisi yang

harmonis

5.2.1. Unsur-unsur Seni Rupa

Unsur-unsur dasar karya seni rupa adalah unsur-unsur yang

digunakan untuk mewujudkan sebuah karya seni rupa. Unsur-unsur itu terdiri

dari :

a. Titik /Bintik

Titik/bintik merupakan unsur dasar seni rupa yang terkecil. Semua

wujud dihasilkan mulai dari titik. Titik dapat pula menjadi pusat perhatian, bila

berkumpul atau berwarna beda.Titik yang membesar biasa disebut bintik.

b.Garis

Garis adalah goresan atau batas limit dari suatu benda, ruang,

bidang, warna, texture, dan lainnya. Garis mempunyai dimensi memanjang

dan mempunyai arah tertentu, garis mempunyai berbagai sifat, seperti

pendek, panjang, lurus, tipis, vertikal, horizontal, melengkung, berombak,

halus, tebal, miring, patah-patah, dan masih banyak lagi sifat-sifat yang lain.

Kesan lain dari garis ialah dapat memberikan kesan gerak, ide, simbol, dan

kode-kode tertentu, dan lain sebagainya. Pemanfaatan garis dalam desain

diterapkan guna mencapai kesan tertentu, seperti untuk menciptakan kesan

kekar, kuat simpel, megah ataupun juga agung. Beberapa contoh symbol

ekspresi garis serta kesan yang ditimbulkannya, dan tentu saja dalam

penerapannya nanti disesuaikan dengan warna-warnanya

c. Bidang

Bidang dalam seni rupa merupakan salah satu unsur seni rupa yang

terbentuk dari hubungan beberapa garis. Bidang dibatasi kontur dan

merupakan 2 dimensi, menyatakan permukaan, dan memiliki ukuran Bidang

dasar dalam seni rupa antara lain, bidang segitiga, segiempat, trapesium,

lingkaran, oval, dan segi banyak lainnya

d. Bentuk

Bentuk dalam pengertian bahasa, dapat berarti bangun (shape) atau

bentuk plastis (form). Bangun (shape) ialah bentuk benda yang polos, seperti

yang terlihat oleh mata, sekedar untuk menyebut sifatnya yang bulat, persegi,

ornamental, tak teratur dan sebagainya. Sedang bentuk plastis ialah bentuk

benda yang terlihat dan terasa karena adanya unsur nilai (value) dari benda

tersebut, contohnya lemari. Lemari hadir di dalam suatu ruangan bukan

hanya sekedar kotak persegi empat, akan tetapi mempunyai nilai dan peran

yang lainnya.

Bentuk atau bangun terdiri dari bentuk dua dimensi (pola) dan bentuk

tiga dimensi. Bentuk dua dimensi dibuat dalam bidang datar dengan batas

garis yang disebut kontur. Bentuk-bentuk itu antara lain segitiga, segi empat,

trapezium dan lingkaran. Sedang bentuk tiga dimensi dibatasi oleh ruang

yang mengelilinginya dan bentuk-bentuk itu antara lain limas, prisma, kerucut,

dan silinder.

Sifat atau karakteristik dari tiap bentuk dapat memberikan kesankesan

tersendiri seperti :

1) Bentuk teratur kubus dan persegi, baik dalam dua atau tiga dimensi

memberi kesan statis, stabil, dan formal. Bila menjulang tinggi sifatnya

agung dan stabil.

2) Bentuk lengkung bulat atau bola memberi kesan dinamis, labil dan

bergerak.

3) Bentuk segitiga runcing memberi kesan aktif, energik, tajam, dan

mengarah.

Dalam seni rupa, bentuk pada dasarnya dibagi menjadi tiga, yaitu :

1) Bentuk figuratif

Bentuk figuratif adalah bentuk-bentuk yang berasal dari alam (nature).

Bentuk-bentuk itu seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia ataupun

alam lainnya.

2) Bentuk yang diabstraktif

Bentuk diabstraktif adalah bentuk figuratif yang telah mengalami

perubahan atau penggayaan bentuk yang kemudian cenderung kita sebut

dengan istilah stilasi atau deformasi. Di sini bentuk figuratif diubah hingga

tinggal sarinya (esensinya) saja dan menjadi bentuk baru yang kadangkadang

hampir kehilangan ciri-ciri alaminya sama sekali. Contoh bentuk ini,

misalnya abstraksi manusia menjadi topeng atau wayang, abstraksi binatang

seperti burung garuda dan abstraksi tumbuhan seperti pada gambar-gambar

hiasan.

Penggunaan bentuk-bentuk ini umumnya diterapkan pada karya-karya

seni dekoratif seperti pada batik, hiasan keramik, karya ukiran, dan lain-lain.

Sumber : Seni Rupa dan Desain

Gambar 5.13. Pengayaan Bentuk (Diabstraktif)

3) Bentuk abstrak

Bentuk abstrak sering disebut dengan bentuk non figuratif, artinya

bentuk-bentuk yang lahir bukan dari alam melainkan penyimpangan dari

bentuk-bentuk alam. Ada tiga macam bentuk abstrak, yaitu bentuk abstrak

murni, abstrak simbolis, dan abstrak filosofis.

Bentuk abstrak murni ialah bentuk-bentuk yang sering disebut dengan

bentuk-bentuk geometris atau bentuk alam benda, misalnya segitiga, prisma,

kursi, lemari, sepatu, buku, rumah, dan lain-lain. Bentuk simbolis, misalnya

huruf, tanda baca, rambu-rambu, lambang, dan lain-lain. Sedang abstrak

filosofis ialah bentuk-bentuk yang mempunyai nilai-nilai tertentu, misalnya

agama, kepercayaan, dan lainnya.

e. Ruang

Ruang dalam arti yang luas adalah seluruh keluasan, termasuk di

dalamnya hawa udara. Dalam pengertian yang sempit ruang dibedakan

menjadi dua, yaitu ruang negatif dan ruang positif. Ruang negatif adalah

ruang yang mengelilingi wujud bentuk, sedang ruang positif adalah ruang

yang diisi atau ditempati wujud bentuk.

f. Warna

Warna merupakan unsur penting dan paling dominant dalam sebuah

penciptaan karya desain. Melalui warna orang dapat menggambarkan suatu

benda mencapai kesesuaian dengan kenyataan yang sebenarnya. Warna

dapat dikelompokkan berdasarkan jenis warna, sifat warna, dan makna

warna.

1) Jenis warna

Dalam sistem Prang (The Prang System), warna dalam hal ini

adalah pigmen yang dapat dikelompokkan sebagai jenis-jenis

warna sebagai berikut :

  • • Warna primer, yaitu tiga warna

pokok yakni merah, biru, dan kuning.

  • • Warna sekunder / biner, yaitu

perpaduan antara 2 warna primer

dan menghasilkan warna hijau,

jingga dan ungu.

  • • Warna intermediate, yaitu

percampuran antara warna primer

dengan warna sekunder,

menghasilkan warna kuning hijau,

hijau-biru, biru-ungu, merah-ungu,

merah-jingga, dan kuning-jingga.

  • • Warna tertier, yaitu percampuran

antara warna sekunder dan warna

intermediate dan menghasilkan

sebanyak 12 warna.

  • • Warna quarterner, yaitu

pencampuran warna intermediate

dengan warna tertier dan

menghasilkan sebanyak 24 warna.

2) Sifat warna

Sifat warna dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : hue, value, dan

intensity.

a) Hue

Hue adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari

suatu warna, seperti merah, biru, kuning, hijau, coklat, ungu,

jingga, dan warna lainnya. Perbedaan antara merah dengan biru,

atau merah dengan kuning adalah perbedaan dalam hue.

b) Value

Value adalah istilah untuk menyatakan gelap terangnya warna

atau harga dari hue. Untuk mengubah value, misalnya dari merah

normal ke merah muda dapat dicapai dengan cara menambah

putih atau mempercair warna tersebut hingga memberi kesan

terang. Dan untuk memberi kesan gelap misalnya merah tua dapat

dicapai dengan menambah hitam. Value yang berada

dipertengahan disebut middle value dan yang berada di atas

middle value disebut high value, sedang yang berada dibawahnya

disebut low value. Value yang lebih terang dari warna normal

disebut tint dan yang lebih gelap disebut shade. Close value

adalah value yang berdekatan atau bersamaan dan kelihatan

lembut dan terang.

c) Intensity

Intensity atau chroma adalah istilah untuk menyatakan cerah atau

suramnya warna, kualitas atau kekuatan warna. Warna-warna yang

intensitasnya penuh nampak sangat mencolok dan menimbulkan efek tegas,

sedang warna-warna yang intensitasnya rendah nampak lebih lembut.

Berdasarkan paduan

warna (colour scheme), warna

dapat dibagi dalam tiga tipe yakni

:

  • • Warna monokromatrik adalah

tingkatan warna dari gelap ke

terang dalam urutan satu

warna, misalnya urutan dari

merah tua sampai ke merah

yang paling muda.

  • • Warna Complementer, yaitu

dua warna yang berlawanan

dalam kedudukan berhadaphadapan,

memiliki kekuatan

berimbang, misalnya kuning

kontras ungu, biru kontras

jingga, dan merah kontras

hijau.

  • • Warna analogus adalah

tingkatan warna dari gelap ke

terang dalam urutan beberapa

warna, misalnya urutan dari

biru, biru kehijauan, hijau,

hijau kekuningan, dan kuning.

3) Makna Warna

Sebagaimana unsur desain yang lain, warna juga mempunyai

makna yang berbeda, antara lain sebagai berikut :

  • • Merah mempunyai makna api, panas, marah, bahaya, aksi,

gagah, berani, hidup, riang dan dinamis.

  • • Putih mempunyai makna suci, mati, bersih, tak berdosa, dan

jujur.

  • • Kuning mempunyai makna matahari, cerah, sukacita, terang,

iri, dan benci.

  • • Kuning emas mempunyai makna masyhur, agung, luhur, dan

jaya.

  • • Coklat mempunyai makna stabil dan kukuh.
  • • Jingga mempunyai makna masak, bahagia, senja, riang,

mashur, dan agung.

  • • Biru mempunyai makna tenang, kenyataan, damai, kebenaran,

kesedihan dan setia.

  • • Hijau mempunyai makna dingin, sejuk, tenang, segar, mentah,

pertumbuhan, dan harapan.

  • • Merah muda mempunyai makna romantis, dan ringan.
  • • Ungu mempunyai makna kekayaan, berkabung, bangsawan,

mewah, berduka cita, dan mengandung rahasia.

  • • Hitam mempunyai makna tragedi, kematian, duka, kegelapan,

gaib, tegas, dan dalam.

Pemaknaan warna dipengaruhi oleh aspek budaya setempat. Pemaknaan

warna yang terkait dengan warna sebagai simbol, di masing-masing daerah

atau wilayah, akan berbeda, sesuai dengan pemaknaannya dalam budaya

setempat. Contoh : bendera tanda adanya kematian, di Indonesia berbeda

sesuai daerah setempat. Di Yogjakarta, bendera merah, di Jakarta – kuning,

di Sulawesi – putih, di Sumatera – merah, dan sebagainya.Di negeri China,

warna merah berarti Cinta, sedangkan di Indonesia berarti marah atau berani.

 

g.Tekstur

Tekstur adalah nilai raba pada suatu permukaan, baik itu nyata

maupun semu. Suatu permukaan mungkin kasar, mungkin juga halus,

mungkin juga lunak mungkin juga kasap atau licin dan lain-lain.

Ada dua macam tekstur yakni tekstur nyata dan tekstur semu, sebagai berikut

:

1) Tekstur nyata

Tekstur nyata adalah tekstur fisik suatu benda secara nyata yang

dikarenakan adanya perbedaan permukaan suatu benda. Misalnya tekstur

wool berbeda dengan kapas, kain sutera berbeda dengan plastik, dan lain

sebagainya. Tekstur ini dapat dikelompokkan dalam tekstur alam, tekstur

buatan dan tekstur reproduksi. Tekstur alam adalah tekstur yang berasal

langsung dari alam, misalnya daun, kulit kayu, permukaan batu, dan lainnya.

Tekstur buatan adalah tekstur yang tercipta dari susunan benda-benda alam,

seperti tikar (dari daun yang disusun), goni (dari pasir dan kertas).

Sedangkan tekstur reproduksi adalah tekstur yang dibuat melalui reproduksi

benda yang sebenarnya, misalnya wallpaper.

2) Tekstur semu

Tekstur semu adalah tekstur yang terlihat saja berbeda tetapi bila

diraba ternyata sama saja. Tekstur ini hadir karena adanya unsur gelap

terang atau karena unsur perspektif.

Selain nilai raba pada suatu permukaan, tekstur juga dapat

menimbulkan kesan berat dan ringan. Sebuah kubus dari besai yang berat

bila dibagian luarnya dilapisi dengan karton maka akan memberi kesan

ringan dan kosong.

5.2.2. Prinsip Penyusunan Karya Seni Rupa

Prinsip adalah asas, prinsip dalam penyusunan karya seni rupa

adalah asas dalam menyusun sebuah karya seni rupa, sehingga karya seni

yang diciptakan mencapai sasaran yang diinginkan.

Ada enam prinsip penyusunan yang perlu diperhatikan oleh para

pencipta karya seni, yaitu :

a. Proporsi

Proporsi artinya perbandingan ukuran keserasian antara satu bagian

dengan bagian yang lainnya dalam suatu benda atau susunan karya seni

(komposisi). Untuk mendapatkan proporsi yang baik, kita harus selalu

membandingkan ukuran keserasian dari benda atau susunan karya seni

tersebut. Misalnya, membandingkan ukuran tubuh dengan kepala, ukuran

kursi dengan meja, ukuran objek dengan ukuran latar, dan kesesuaian

ukuran objek dengan objek lainnya. Karya seni yang tidak proporsional

tampak tidak menarik dan kelihatan janggal. Untuk itu dalam penciptaannya

harus dibuat sesuai dengan proporsi yang sebenarnya. Gambar berikut

memperhatikan contoh karya seni yang proporsional dan yang tidak

proporsional.

b. Keseimbangan (balans)

Keseimbangan (balans) adalah kesan yang didapat karena adanya

daya tarik yang sama antara satu bagian dengan bagian lainnya pada

susunan karya seni.

Balans didapat dari dua kesan, yakni karena adanya ukuran / bentuk

dan karena adanya warna. Karena adanya ukuran / bentuk disebut balans

ukuran / bentuk dan karena adanya warna disebut balans warna.

Bila dilihat dari bentuk susunannya, balans dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1) Balans Simetris

Balans simetris atau balans formal adalah balans yang susunan

unsur-unsurnya pada tiap-tiap sisi dari pusatnya adalah benar-benar sama.

2) Balans asimetris

Balans asimetris atau balans informal adalah balans yang susunan

unsur-unsurnya pada tiap-tiap sisi ditempatkan berbeda, namun susunan

tersebut bisa memberikan kesan seimbang.

3) Balans radial

Balans radial atau memusat / melingkar adalah balans yang susunan

unsur-unsurnya melingkari satu pusat yang berbentuk roda.

c. Irama (Ritme)

Irama (ritme) adalah pengulangan yang terus menerus dan teratur

dari suatu unsur atau beberapa unsur. Untuk mendapatkan gerak irama

(ritmis)dapat diperoleh dengan cara :

g. Melalui pengulangan bentuk

(repetisi)

h. Melalui penyelangan dan

pergantian (variasi)

i. Melalui progresi atau gradasi,

yakni suatu urutan atau tingkatan

seperti dari besar makin lama

makin makin mengecil atau dari

gelap sekali, kemudian menurun

menjadi gelap dan akhirnya

menjadi terang.

j. Melalui gerak garis

berkesinambungan (kontinu)

d. Kontras

Kontras adalah kesan yang

didapat karena adanya dua hal yang

berlawanan, misalnya adanya

bentuk, ukuran, warna, atau tekstur

yang berbeda. Kontras yang

ditimbulkan karena adanya bentuk

yang berbeda disebut kontras

bentuk. Jika ukurannya yang

berbeda maka disebut kontras

ukuran. Bila warnanya yang berbeda

maka disebut kontras warna. Dan

apabila tekstur yang berbeda, maka

disebut Kontras tekstur.

e. Klimaks

Klimaks disebut juga dominan, adalah fokus dari susunan karya seni

yang mendatangkan perhatian. Oleh sebab itu, istilah klimaks sering disebut

dengan istilah centre of interest (pusat perhatian). Untuk menciptakan pusat

perhatian pada karya desain, tempatkan salah satu unsur secara tersendiri

atau berbeda dari unsur lainnya.

Istilah lain yang sering digunakan untuk kata klimaks adalah

emphasize (penekanan), centre point dan fokus.

f. Kesatuan (Unity)

Kesatuan (unity) adalah prinsip utama dalam hal penciptaan bentuk.

Dengan kesatuan, elemen seni rupa dapat disusun sedemikian rupa hingga

menjadi satu kesatuan bentuk yang terorganisir dari setiap unsur desain

hingga tercapailah suatu karya seni atau sebuah karya desain yang menarik

dan harmonis.

g. Komposisi

Komposisi merupakan suatu susunan unsur-unsur seni rupa

berdasarkan prinsip seni rupa. Susunan tersebut dikatakan harmonis, apabila

tersusun sesuai prinsip-prinsip seni rupa. Susunan yang harmonis tersebut

menghasilkan komposisi seni rupa yang baik.

5.3. Apresiasi Karya Seni Rupa

5.3.1 Pengertian dan Fungsi Apresiasi

Apresiasi berasal dari bahasa latin appretiatus yang lebih kurang

mempunyai arti mengerti serta menyadari sepenuhnya hingga mampu

menilai semestinya. Dalam hubungannya dengan seni kata apresiasi

mempunyai arti mengerti dan menyadari tentang hasil karya seni serta

menjadi peka terhadap nilai estetisnya, sehingga mampu menikmati dan

menilai karya seni tersebut. Dalam pengertian yang lebih luas, apresiasi

dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang menikmati, mengamati,

menghayati serta menilai sekaligus memberi masukan berupa kritikan yang

objektif tanpa kehilangan rasa simpati terhadap sebuah karya seni.

Apresiasi mempunyai tiga tingkatan, yaitu apresiasi empatik, apresiasi

estetis, dan apresiasi kritis.

  • • Apresiasi empatik adalah apresiasi yang hanya menilai baik dan

kurang baik hanya berdasarkan pengamatan belaka. Apresiasi atau

penilaian ini bias any dilakukan oleh orang awam yang tidak punya

pengetahuan dan pengalaman dalam bidang seni.

  • • Apresiasi estetis adalah apresiasi untuk menilai keindahan suatu

karya seni. Apresiasi pada tingkat ini dilakukan seseorang setelah

mengamati dan menghayati karya seni secara mendalam.

  • • Apresiasi kritis adalah apresiasi yang dilakukan secara ilmiah dan

sepenuhnya bersifat keilmuan dengan menampilkan data secara

tepat, dengan analisis, interpretasi, dan peneilaian yang bertanggung

jawab.

Apresiasi ini biasanya dilakukan oleh para kritikus yang memang

secara khusus mendalami bidang tersebut. Dalam suatu apresiasi akan

terjalin komunikasi antara si pembuat karya seni (seniman) dengan penikmat

karya seni (apresiator). Dengan adanya komunikasi timbal-balik ini, seniman

diharap mampu mengembangkan kemampuannya untuk dapat membuat

karya seni yang lebih bermutu.

 

5.3.2. Aliran-aliran dalam Seni Rupa

Berbagai aliran dalam seni rupa berkembang terus dari jaman ke jaman,

antara lain :

a. Naturalisme

Aliran ini merupakan suatu aliran seni rupa yang mengutamakan

kesesuaian dengan keadaan mahluk hidup, alam, dan benda mati

sebenarnya. Contoh yang paling terlihat adalah pada lukisan potret diri,

pemandangan alam, atau landscape.

b. Realisme

Aliran ini menunjukkan suatu keadaan sosial yang sesungguhnya dan

biasanya memprihatinkan dan sedang bergejolak di dunia atau suatu

tempat tertentu. Contoh aliran seni rupa ini antara lain melukiskan

kemiskinan, kesedihan, atau peristiwa yang memilukan.

c. Romantisme

Aliran ini umumnya ditandai oleh tema-tema yang fantastis, penuh

khayal, atau petualangan para pahlawan purba. Juga banyak

menampilkan berbagai perilaku dan karakter manusia yang dilebihlebihkan.

Para pelukis ini antara lain Eugene delacroik (1798-1963), Jean

Baptiste Camille Corot(1796-1875) dan Rousseau (1812-1876). Gaya ini

juga berkembang di Jerman, Belanda, dan Perancis.

d. Impresionisme

Aliran ini dalam dunia seni rupa berawal dari ungkapan yang mengejek

pada karya Claude Monet (1840-1926) pada saat pameran di Paris tahun

1874. Karya ini menggambarkan bunga teratai dipagi hari yang

ditampilkan dalam bentuk yang samar dan warna kabur dan oleh

sebagian kritikus seni disebut sebagai “impresionistik “, suatu lukisan

yang menampilakan bentuk yang sederhana dan terlampau biasa.

e. Ekspresionisme

Adalah suatu aliran dalam seni rupa yang melukiskan suasana

kesedihan, kekerasan, kebahagiaan, atau keceriaan dalam ungkapan

rupa yang emosional dan ekspresif.

Salah seorang pelukis yang beraliran Ekspresionisme adalah Vincent

van Gogh (1853-1890). Lukisan lukisannya penuh dengan ekpresi

gejolak jiwa yang diakibatkan oleh penderitaan dan kegagalan dalam

hidup.salah satu lukisannya yang terkenal adalah “Malam Penuh Bintang

“(1889), yang mengekpresikan gairah yuang tinggi sekaligus perasaan

kesepian.

f. Kubisme

Kubisme adalah suatu aliran dalam seni rupa yang bertitik tolak dari

penyederhanaan bentuk-bentuk alam secara geometris (berkotak-kotak).

Pada tahun 1909 berkembang aliran kubisme Analistis yang

mengembangkan konsep dimensi empat dalam seni lukis. Dan

dimengerti sebagai konsep dimensi ruang dan waktu dalam lukisan.

Pada setiap sudut lukisan terlihat objek yang dipecah-pecah dengan

posisi waktu yang berbeda. Sedangkan Kubisme Sintetis, pelukisannya

disusun dengan bidang yang berlainan yang saling tumpang dan tembus.

g. Konstruksifisme

Aliran seni ini awalnya berkembang di Rusia penggagasnya antara lain

Vladimir Tattin, Antoine Pevsner, dan Naum Gabo. Gaya ini

mengetengahkan berbagai karya seni berbentuk tiga dimensional namun

wujudnya abstrak. Bahan-bahan yang dipergunakan adalah bahan

modern seperti besi beton, kawat, bahkan plastik.

h. Abstrakisme

Seni ini menampilkan unsur-unsur seni rupa yang disusun tidak terbatas

pada bentuk-bentuk yang ada di alam. Garis, bentuk, dan warna

ditampilkan tanpa mengindahkan bentuk asli di alam. Kadinsky dan Piet

Mondrian marupakan sebagian perupa beraliran abstrak ini. Seni Abstrak

ini pada dasarnya berusaha memurnikan karya seni, tanpa terikat

dengan wujud di alam.

i. Dadaisme

Adalah gerakan seni rupa modern yang memiliki kecendrungan

menihilkan hukum–hukum keindahan yang ada.Ciri utama gaya ini

adalah paduan dari berbagai karya lukisan, patung atau barang tertentu

dengan menambahkan unsur rupa yang tak lazim sebagai protes pada

keadaan sekitarnya, seperti lukisan reproduksi lukisan “Monalisa “ karya

Leonardo da Vinci tetapi diberi kumis, atau petusan laki-laki diberi

dudukan dan tandatangan, kemudian dipamerkan di suatu galeri.

j. Surealisme

Adalah penggambaran dunia fantasi psikologis yang diekspresikan

secara verbal, tertulis maupun visual. Bentuk-bentuk alam dideformasi,

sehingga penuh fantasi dan di luar kewajaran.

k. Elektisisme

Yaitu gerakan seni awal abad ke- 20 yang mengkombinasikan berbagai

sumbergaya yang ada di dunia menjadi wujud seni modern. Banyak

yang menjadi sumber inspirasi dari gaya seni ini. Antara lain, gaya seni

primitive sejumlah suku bangsa di Afrika, karya seni pra-sejarah, seni

amerika Latin, gaya esetik Mesir Purba, dan Yunani Kuno. Tokoh-tokoh

seni yang menerapkan gaya ini antasra lain Picasso (disamping sebagai

tokoh Kubisme), Paul Gaugguin, Georges Braque, Jean Arp, Henry

Moore, dan Gabo.

l. Posmodernisme

Istilah seni ini umumnya disebut seni kontemporer yaitu mengelompokan

gaya-gaya seni rupa yang sezaman dengan pengamat atau yang

menjadi kecenderungan popular dan dipilih oleh para seniman dalam

rentang lima puluh tahun terakhir hingga sekarang.

Gaya ini sering diartikan sebagai aliran yang berkembang setelah seni

modern. Jika dalam seni modern lebih memusatkan kepada ekspresi

pribadi dan penggalian gaya baru, dalam seni Posmodern ungkapan seni

lebih ditekankan kepada semantika (makna rupa) dan semiotika

(permainan tanda rupa).

5.3.3. Aspek-aspek Penilaian dalam Apresiasi Karya Seni Rupa

Untuk mengadakan penilaian terhadap karya seni rupa terapan,

berikut adalah beberapa aspek yang bisa dijadikan ukuran atau kriteria

sebuah penilaian. Dari aspek atau ukuran penilaian yang akan dibahas nanti,

tidak mutlak semua harus digunakan, karena tidak semua karya seni rupa

cocok dengan ukuran penilaian tersebut. Aspek-aspek atau ukuran penilaian

itu adalah :

a) Aspek Ide atau Gagasan

Proses kreatif dalam dunia kesenirupaan merupakan suatu proses

yang timbul dari imajinasi menjadi kenyataan. Proses mencipta suatu benda

melalui pikiran, dan melaksanakannya melalui proses sehingga masyarakat

dapat menikmati dan memanfaatkannya. Ekspresi yang muncul akibat

adanya rangsangan dari luar dan ilham dari dalam menciptakan suatu

keunikan sendiri. Keunikan ekspresi pribadi itulah yang disebut kreativitas.

b) Aspek penguasaan teknis

Teknik adalah cara untuk mewujudkan suatu ide menjadi hal-hal yang

kongkrit dan punya nilai. Ketidaktrampilan dalam penggunaan teknik akan

berdampak pada karya yang dihasilkan. Demikian dalam hal pemilihan teknik

juga harus menjadi bahan pertimbangan dalam pembuatan karya seni.

Kesalahan dalam pemilihan teknik, juga akan berdampak pada karya seni

yang dihasilkan. Itulah sebabnya aspek penguasaan teknik perlu

dipertimbangkan dalam penilaian sebuah karya seni.

c) Aspek penguasaan bahan

0

Setiap bahan mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda,

misalnya sifat rotan adalah lentur, logam adalah keras, tanah liat adalah

plastis dan masih banyak lagi. Untuk itu seorang pencipta karya seni harus

tahu betul sifat dan karakter bahan yang digunakan. Kesalahan dalam

memilih bahan juga akan berakibat pada hasil karya yang dibuatnya. Untuk

itulah aspek penguasaan bahan dalam penilaian karya seni rupa terapan

patut dipertimbangkan.

d) Aspek kegunaan

Sebagaimana dalam aspek pertimbangan penciptaan karya seni

terapan, perlu mempertimbangkan aspek kegunaan (applied), maka dalam

penilaian juga perlu mempertimbangkan aspek tersebut. Hal ini sangat

penting mengingat fungsi utama dalam seni rupa terapan adalah kegunaan.

Segi-segi penilaian yang perlu dipertimbangkan dalam kegunaan adalah segi

kenyamanan dalam penggunaan, segi keluwesan/fleksibelitas dan segi

keamanan dalam penggunaannya.

e) Aspek wujud (form)

Aspek wujud (form) adalah aspek yang berhubungan erat dengan

prinsip-prinsip komposisi. Prinsip-prinsip komposisi itu meliputi proporsi,

keseimbangan (balance), irama (ritme), kontras, klimaks, kesatuan (unity).

Prinsip itulah yang menjadi ukuran untuk menilai karya seni dari segi wujud

atau form.

f) Aspek gaya atau corak

Karya seni adalah karya perseorangan, ia lahir dari cita, visi, dan

interpretasi individual seorang seniman. Seorang yang mempunyai watak

yang keras akan tercermin karya-karya yang keras baik dalam segi bentuk,

pewarnaan ataupun dalam pemilihan dan pengelolahan tema. Gaya atau

corak seseorang dalam menciptakan karya seni, perlu juga dipertimbangkan

dalam penilaian pada sebuah apresiasi.

g) Aspek kreativitas

Kreativitas yang dimaksud di sini adalah kreativitas yang

bersangkutan dengan karya seni. Banyak cara untuk menemukan kreativitas,

misalnya dalam penggunaan media, bahan, alat, dan teknik yang berbeda

dari yang sebelumnya. Kreativitas juga bisa didapat dengan menampilkan

bentuk-bentuk baru atau memadukan unsur baru dengan yang lama. Bila-halhal

di atas dapat dicapai pada penciptaan karya seni rupa, khususnya karya

seni rupa terapan, maka penilaian dari aspek ini menjadi penting untuk

dipertimbangkan.

h) Aspek tempat

Pertimbangan tempat di mana karya itu akan diletakkan harus

mendapat perhatian dari seorang perancang karya seni rupa terapan.

Seperangkat meja kursi makan dari rotan yang dibuat untuk keperluan rumah

tangga, tentunya harus berbeda dengan seperangkat meja kursi makan dari

rotan yang dibuat untuk keperluan suatu rumah makan besar.

i) Aspek selera dan agama

Seorang seniman yang ingin membuat karya seni terapan yang dapat

digunakan oleh orang banyak, harus dapat menyesuaikan karyanya dengan

selera dan agama yang dianut oleh pasar. Dalam hal ini selera harus

dipertimbangkan hal-hal yang sedang menjadi tren di masyarakat, misalnya

dari segi model/bentuk, warna, ukuran, bahan yang digunakan. Dalam hal

agama, hal-hal yang menjadi bahan pertimbangan, misalnya penerapan motif

pada karya seni yang diciptakan, motif Bali akan lebih cocok bagi mereka

yang beragama Hindu. Hal-hal seperti itu penting karena jika tidak demikian

karya seni yang diciptakan tidak akan mendapat tempat dihati masyarakat.

 

 

5.4. Pameran Karya Seni Rupa

Aktivitas seni tidak hanya terbatas pada proses penciptaan karya seni,

tetapi bisa merembet ke aktivitas seni lainnya, dan salah satu dari aktivitas

lain itu adalah melakukan kegiatan pameran karya seni rupa.

5.4.1. Kegunaan Pameran Seni Rupa di Kelas atau di Sekolah

Pameran merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam

bidang kesenirupaan, karena kegiatan pameran baik sekali kegunaannya

baik bagi siswa, seniman, pengamat seni rupa, maupun bagi perkembangan

seni rupa pada umumnya. Melalui pameran, seorang siswa bisa

memperkenalkan karya-karyanya kepada masyarakat baik dilingkungan

sekolah ataupun masyarakat umum untuk dilihat, dinilai, dikagumi, atau

dikritik.

5.4.2. Jenis-Jenis Pameran

Pameran karya seni rupa berdasarkan pada ragam jenis karya yang

ditampilkan, dibedakan menjadi dua, yaitu pameran homogen dan pameran

heterogen. Pameran homogen, artinya pameran yang hanya menampilkan

satu karya seni rupa saja, misalnya pameran lukisan, pameran patung,

pameran keramik dan lain sebagainya.

Pameran heterogen, artinya pameran yang sekaligus menampilkan

berbagai jenis karya seni rupa, misalnya pameran seni kriya, pameran

lukisan, pameran patung, pameran keramik dan karya seni rupa lainnya

dilakukan dalam satu ruang pameran dan dilakukan dalam waktu bersamaan.

Pameran seni rupa yang diselenggarakan dalam kaitannya dengan

pendidikan seni rupa di sekolah, biasanya merupakan pameran heterogen,

karena menampilkan jenis karya seni rupa yang beragam mulai dari lukisan,

patung, ukiran, keramik, karya kerajinan, dan karya seni rupa lainnya.

Pameran berdasarkan pada jumlah seniman yang tampil, pameran

dapat dibedakan ke dalam :

a.Pameran perorangan atau pameran tunggal

b.Pameran kelompok, baik kelompok seniman dalam satu sanggar atau

satu almamater, kelompok seniman dalam satu aliran dan kelompok

lainnya.

 

5.4.3. Manfaat pameran seni rupa di lingkungan sekolah

a) Meningkatkan kemampuan berkarya

Dengan adanya pameran, karya-karya para siswa akan dilihat oleh

masyarakat sehingga para siswa dituntut untuk menghasilkan karyanya yang

terbaik. Di sini akan terjadi persaingan yang sehat dan terarah, dan hal ini

menjadi pendorong bagi siswa untuk meningkatkan kemampuannya dalam

berkarya.

b) Dapat melakukan penilaian / evaluasi

Pameran merupakan kesempatan bagi guru untuk melihat sejauh

mana kemajuan yang dicapai oleh siswanya. Pameran dapat dikatakan

menjadi sarana untuk melakukan penilaian atau evaluasi terhadap kemajuan

dan perkembangan yang terjadi pada diri siswa. Sehingga penilaian atau

evaluasi ini dapat dimasukan dalam perhitungan nilai rapor.

Penilaian juga dilakukan oleh pihak luar sekolah seperti orang tua siswa

atau masyarakat umum yang mengunjungi pameran tersebut. Dari kesanpesan

yang mereka sampaikan tentunya dapat memberi gambaran sampai

sejauh mana keberhasilan pendidikan seni rupa di sekolah tersebut.

c) Sebagai sarana apresiasi dan hiburan

Di samping sebagai sarana untuk melakukan penilaian atau evaluasi,

kegiatan pameran dapat dijadikan sebagai sarana apresiasi. Apresiasi di sini

dapat diartikan sebagai penikmatan, pengamatan, penghargaan, atau bisa

juga penilaian terhadap karya-karya yang ditampilkan.

Penilaian yang dimaksud bukan menilai dengan angka, melainkan

suatu proses pencarian nilai-nilai seni, pemahaman isi dan pesan dari karya

seni, dan melakukan juga perbandingan-perbandingan terhadap karya seni

sehingga nantinya akan didapat sebuah penilaian yang utuh dan

komprehensif.

Dalam arti yang luas, kegiatan pameran dapat juga diartikan sebagai

sarana untuk mendapatkan hiburan. Di sini masyarakat dapat merasakan

kesenangan atau empati, merasakan suka duka seperti layaknya menonton

film atau menyaksikan pertunjukkan musik dan seni lainnya.

d) Melatih siswa untuk bermasyarakat

Melaksanakan kegiatan pameran bukanlah kerja perorangan,

melainkan kerja kelompok yang melibatkan banyak orang. Jadi, dengan

mengadakan pameran seni rupa di sekolah, mendidik para siswa untuk

bermasyarakat. Di sini para siswa dapat bekerja sama satu sama lain,

melatih untuk menghargai pendapat orang lain, dan dapat pula memberi

pendpat terhadap tim kerjanya.

5.4.4. Syarat-syarat Penyelenggaraan Pameran Seni Rupa di

Kelas atau di Sekolah

Untuk dapat menyelenggarakan pameran karya seni rupa di lingkungan

sekolah, ada beberapa hal yang harus dikerjakan, yaitu :

a. Mengumpulkan karya yang akan dipamerkan

b. Menyiapkan penjaga pameran

c. Menyiapkan ruang atau tempat dan perlengkapan pameran

d. Menata karya-karya yang akan dipamerkan

e. Menyiapkan publikasi dan dokumentasi pameran

About elivas02

guru seni budaya
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s